Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan komitmen Jakarta untuk mendukung proses perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan di Myanmar saat melakukan kunjungan ke Naypyidaw dan bertemu Presiden Myanmar Min Aung Hlaing pada Senin (8/6).
Dalam pertemuan tersebut, Sugiono menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan dukungan Indonesia terhadap terciptanya stabilitas dan penyelesaian konflik secara damai di Myanmar.
Menurut Kementerian Luar Negeri, Indonesia siap menjalin kerja sama dengan seluruh pihak terkait di Myanmar untuk mendorong dialog sebagai jalan menuju penyelesaian konflik.
“Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan di Myanmar demi tercapainya dialog untuk menyelesaikan konflik secara damai,” kata Sugiono.
Indonesia juga kembali menegaskan pandangannya bahwa proses perdamaian harus dipimpin dan dimiliki oleh Myanmar sendiri. Dalam konteks tersebut, Indonesia menilai implementasi Five-Point Consensus ASEAN tetap menjadi kerangka utama yang dapat digunakan untuk membantu penyelesaian krisis di negara tersebut.
Peningkatan kerja sama bilateral
Kunjungan itu menegaskan solidaritas kemanusiaan yang selama ini diberikan Indonesia kepada rakyat Myanmar melalui berbagai program bantuan, mulai dari sektor kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga penanganan bencana. Dukungan tersebut termasuk bantuan yang disalurkan setelah gempa besar yang melanda Myanmar pada 2025.
Selain melakukan pembicaraan dengan Presiden Min Aung Hlaing, Sugiono juga bertemu Menteri Luar Negeri Myanmar U Tin Maung Swe. Kedua pihak membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama, baik pada tingkat bilateral maupun regional.
Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Myanmar turut menjajaki peluang peningkatan kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, serta hubungan antarmasyarakat yang dinilai penting untuk memperkuat hubungan kedua negara.
Indonesia dan Myanmar memiliki hubungan diplomatik yang telah berlangsung sejak 1949. Kedua negara juga tercatat sebagai salah satu penggagas Konferensi Asia-Afrika pada 1955 di Bandung, sebuah forum yang memperkuat semangat solidaritas, kemerdekaan, dan kerja sama di antara negara-negara berkembang.
Kementerian Luar Negeri menyebut kedekatan historis tersebut menjadi landasan penting bagi penguatan hubungan Indonesia dan Myanmar di masa depan, termasuk dalam upaya membangun perdamaian dan stabilitas kawasan.




















