BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
IHSG melonjak 5,5 persen, rupiah menguat di tengah bangkitnya pasar Asia
Penguatan pasar saham Korea Selatan dan Taiwan serta meredanya ketegangan Iran-Israel mendorong rebound pasar emerging market Asia. Rupiah sempat menguat ke Rp18.020 per dolar AS, sementara IHSG melesat hingga 5,5 persen.
IHSG melonjak 5,5 persen, rupiah menguat di tengah bangkitnya pasar Asia
FOTO ARSIP: Bursa Efek Indonesia (IDX) di Jakarta. / Reuters

Pasar saham dan mata uang negara berkembang di Asia menguat pada Selasa (9/6), didorong oleh pemulihan bursa Korea Selatan dan Taiwan serta meredanya ketegangan antara Iran dan Israel.

Di Indonesia, rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan setelah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di luar jadwal untuk menahan pelemahan rupiah.

Mengutip Reuters, rupiah sempat menguat ke level Rp18.020 per dolar AS sesaat setelah pengumuman tersebut. Namun penguatan itu tidak bertahan lama dan mata uang Garuda kembali diperdagangkan di sekitar Rp18.050 per dolar AS pada sore hari.

IHSG yang sempat tertekan usai keputusan BI, berbalik menguat dan melonjak hingga 5,5 persen.

Meski demikian, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level 7,517 persen, tertinggi sejak November 2022. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal Indonesia dan tekanan yang masih membayangi nilai tukar rupiah.

BI mengambil langkah kenaikan suku bunga hanya beberapa hari sebelum rapat kebijakan moneter yang telah dijadwalkan. Sebelumnya, bank sentral juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei lalu dan menggunakan sekitar 12 miliar dolar AS cadangan devisa sepanjang tahun ini untuk menopang rupiah.

Namun, langkah tersebut belum mampu menghentikan pelemahan mata uang domestik. Sepanjang 2026, rupiah telah melemah sekitar 8 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan.

"Bank Indonesia merasa perlu bertindak lebih tegas, terutama karena mereka tidak dapat terus melakukan intervensi dalam skala yang sama mengingat cadangan devisa terus menurun," kata Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, seperti dikutip Reuters.

Menurut para analis, pemulihan kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga membutuhkan kepastian kebijakan, disiplin fiskal, dan perbaikan tata kelola untuk meningkatkan iklim investasi.

Secara regional, indeks MSCI Emerging Markets Asia naik sekitar 4 persen. Penguatan terutama ditopang oleh rebound pasar saham Korea Selatan dan Taiwan yang sehari sebelumnya mengalami tekanan tajam.

Indeks KOSPI Korea Selatan melesat 8,2 persen, didorong lonjakan saham raksasa chip Samsung Electronics dan SK Hynix yang masing-masing naik 9 persen dan 16 persen.

Sementara itu, indeks saham utama Taiwan menguat 2,8 persen dengan saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip terbesar di dunia, naik 0,4 persen.

Di Asia Tenggara, indeks saham Singapura, Thailand, dan Filipina masing-masing menguat lebih dari satu persen, sedangkan pasar saham Malaysia ditutup mendatar setelah menghapus kenaikan di awal perdagangan.

Sentimen positif di pasar juga didorong oleh meredanya konflik Iran dan Israel setelah kedua negara menghentikan serangan menyusul seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski demikian, pasar masih mencermati risiko gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz dan belum adanya kesepakatan damai yang permanen.

TerkaitTRT Indonesia - IHSG tertekan hingga 4 persen di tengah aksi jual asing dan sentimen domestik
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi