Analis pasar logam Reuters, Andy Home, menilai lonjakan harga sulfur akibat berlanjutnya penutupan Selat Hormuz mulai memberikan tekanan besar terhadap industri nikel Indonesia, produsen nikel terbesar dunia.
Indonesia sangat bergantung pada pasokan sulfur dari kawasan Teluk untuk mendukung operasional pengolahan nikel, terutama fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) yang memasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Sekitar 75 persen impor sulfur Indonesia berasal dari kawasan Teluk, sementara wilayah tersebut menyumbang hampir seperempat pasokan sulfur global.
Sulfur digunakan untuk memproduksi asam sulfat yang menjadi komponen utama dalam proses pengolahan nikel HPAL. Fasilitas ini menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara penting untuk industri baterai.
Gangguan pasokan akibat perang Iran disebut mulai memukul operasional sejumlah smelter di Indonesia.
Produksi mulai tertekan
Sejumlah operator HPAL mulai memangkas produksi akibat kenaikan biaya sulfur. Perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt bahkan dilaporkan menghentikan setengah kapasitas produksinya.
Ekspansi kapasitas baru yang sebelumnya dijadwalkan beroperasi tahun ini juga diperkirakan tertunda karena produsen kesulitan menjaga tingkat produksi.
Bank investasi Macquarie Group memperkirakan produksi HPAL Indonesia tahun lalu mencapai 450 ribu ton atau lebih dari 10 persen produksi global. Sekitar 100 ribu ton kapasitas tambahan sebelumnya diproyeksikan mulai beroperasi pada 2026.
Tekanan terhadap industri juga datang dari kebijakan pemerintah Indonesia yang memperketat kuota produksi tambang serta mengubah formula harga minimum bijih nikel.
Kuota produksi tahun ini dipatok sekitar 260 juta hingga 270 juta ton, lebih rendah dibanding kebutuhan smelter domestik.
Formula baru harga bijih nikel disebut dapat meningkatkan biaya produksi HPAL lebih dari 3.000 dolar AS per ton. Jika digabungkan dengan kenaikan harga sulfur, titik impas produksi kini diperkirakan mencapai 18 ribu dolar AS per ton.
Harga nikel mulai naik
Kondisi tersebut mulai mengubah keseimbangan pasar nikel global setelah selama dua tahun terakhir Indonesia membanjiri pasar dengan pasokan besar yang menekan harga dunia.
Harga nikel tiga bulan di London Metal Exchange pekan lalu sempat menyentuh level tertinggi dalam dua tahun di kisaran 20 ribu dolar AS per ton.
Harga saat ini bertahan di sekitar 19 ribu dolar AS per ton atau naik sekitar 14,5 persen sejak awal 2026.
Kelompok studi industri International Nickel Study Group sebelumnya memperkirakan pasar nikel global akan beralih dari surplus besar dalam tiga tahun terakhir menjadi defisit pada 2026.
Produksi global diperkirakan turun 4,3 persen seiring melambatnya pertumbuhan produksi Indonesia.
Analis menilai pemerintah Indonesia masih dapat menyesuaikan kembali kuota tambang di pertengahan tahun. Namun, Jakarta dinilai tidak memiliki kendali atas krisis pasokan sulfur global yang kini menjadi ancaman baru bagi dominasi nikel Indonesia.
















