IKLIM
3 menit membaca
Kabut asap pekat lumpuhkan penerbangan di Riau dan picu udara tidak sehat di Malaysia
Kabut asap akibat karhutla di Sumatera dan Kalimantan memicu jarak pandang turun hingga 600 meter, mengganggu penerbangan di Pekanbaru, dan mencatatkan puluhan wilayah Malaysia dalam status udara tidak sehat.
Kabut asap pekat lumpuhkan penerbangan di Riau dan picu udara tidak sehat di Malaysia
Warga melintas di tengah kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan. / AFP

Kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan berdampak serius pada sektor transportasi udara dan kualitas udara regional pada Rabu (7/10).

Di Indonesia, jarak pandang di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, merosot tajam hingga tersisa sekitar 600 meter. Otoritas bandara melaporkan bahwa kondisi tersebut membuat dua penerbangan komersial asal Jakarta gagal mendarat. Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT292 terpaksa kembali ke Jakarta (return to base), sementara pesawat Citilink penerbangan QG936 dialihkan pendaratannya ke Batam, Kepulauan Riau.

Menurut laporan media lokal Detik yang dikutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kabut asap juga menyelimuti wilayah Batam dan menurunkan jarak pandang hingga kisaran dua sampai tiga kilometer. Asap tersebut terbawa angin dari titik-titik kebakaran di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Dampak polusi lintas batas ini turut dirasakan di negara tetangga Malaysia. Berdasarkan data Sistem Manajemen Indeks Polutan Udara (APIMS), sebanyak 36 wilayah di Malaysia mencatat kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat. Wilayah Johan Setia di Selangor mencatatkan angka tertinggi mencapai 191, disusul oleh Cheras di Kuala Lumpur serta Nilai di Negeri Sembilan masing-masing pada angka 189.

Menanggapi krisis lingkungan ini, otoritas Malaysia mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia telah menerima tawaran bantuan penanggulangan kebakaran, termasuk pengerahan pesawat pengebom air (water bombing) dan pesawat amfibi. Saat ini, koordinasi intensif terkait pengiriman aset pemadaman tersebut tengah dilakukan oleh kedua negara melalui jalur diplomatik.

Titik Panas di Sumatera Melonjak hingga 4.845 Titik

Stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspots) di seluruh wilayah Sumatera hingga menyentuh angka 4.845 titik. Jumlah ini meningkat signifikan dibanding hari sebelumnya, Rabu (7/10) sore, yang sebelumnya tercatat sebanyak 3.157 titik.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yasir P, menyampaikan bahwa data tersebut merupakan hasil pembaruan per Rabu malam pukul 23.00 WIB. Wilayah Sumatera Selatan tercatat sebagai penyumbang titik panas terbanyak dengan total mencapai 3.847 titik.

"Selain Sumatera Selatan, jumlah titik panas yang signifikan juga terpantau di Jambi (384), Bangka Belitung (316), dan Lampung (251)," ujar Yasir di Pekanbaru, Kamis (8/10).

Titik panas lainnya turut terdeteksi di berbagai wilayah di Sumatera, seperti Riau (19), Bengkulu (19), Sumatera Utara (5), Sumatera Barat (2), serta Kepulauan Riau dan Aceh yang masing-masing mencatatkan satu titik panas. Khusus di Provinsi Riau, sebaran titik panas terkonsentrasi di Kuantan Singingi sebanyak 15 titik, sementara sisanya tersebar di Indragiri Hulu, Rokan Hilir, Siak, serta Kota Dumai.

Akibat masifnya kebakaran di bagian selatan Sumatera tersebut, kabut asap tebal kembali mendera wilayah Riau. Sejak Kamis dini hari, konsentrasi partikulat berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melonjak masuk ke dalam kategori "sangat tidak sehat" dengan ambang batas melampaui 200 mikrogram per meter kubik.

Menghadapi kondisi udara yang memburuk ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk kesehatan, khususnya bagi sistem pernapasan.

"Kami menyarankan semua orang untuk memakai masker saat berada di luar ruangan dan membatasi aktivitas di luar rumah jika kabut asap semakin pekat," pungkas Yasir.

TerkaitPemerintah Indonesia digugat atas dugaan kelalaian tangani karhutla dan kabut asap - TRT Indonesia - TRT Indonesia
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi