IKLIM
2 menit membaca
BMKG peringatkan risiko Karhutla seiring menguatnya potensi El Nino hingga 80 persen
Dalam penjelasannya, BMKG memproyeksikan peningkatan karhutla dimulai di Riau pada Juni sebelum meluas ke Sumatera bagian selatan dan Kalimantan pada puncak kemarau Juli–Agustus.
BMKG peringatkan risiko Karhutla seiring menguatnya potensi El Nino hingga 80 persen
FOTO ARSIP: Petugas melakukan pemadaman lahan yang terbakar. /Dok: Riauaktual
14 jam yang lalu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi menguatnya fenomena El Nino pada paruh kedua 2026, dengan peluang berkisar 50 hingga 80 persen, hal ini dapat memicu peningkatan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal tersebut Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Karhutla yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (LH) RI, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Faisal mengatakan saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, indikasi pergeseran menuju El Nino mulai terlihat dan perlu diantisipasi. 

Ia menegaskan bahwa dampaknya dapat memperburuk musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” ujar Faisal.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia siap hadapi El Nino, stok beras capai rekor tertinggi

BMKG memproyeksikan kondisi iklim sepanjang 2026 cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

ENSO sendiri merupakan fenomena global yang dipengaruhi perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik, yang berdampak pada pola cuaca dunia, termasuk Indonesia.

Seiring tren tersebut, BMKG mencatat peningkatan jumlah titik panas (hotspot) hingga awal April 2026 mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Dalam penjelasanya, Faisal menyebutkan risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan mulai meningkat di Riau pada Juni, sebelum meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, lalu bergerak ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus.

Untuk mengurangi risiko, BMKG memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), terutama dengan metode pembasahan lahan gambut. 

Faisal menjelaskan, intervensi dilakukan saat tinggi muka air tanah mulai turun guna menjaga kelembapan dan mencegah kebakaran.

TerkaitTRT Indonesia - Tim gabungan terus padamkan karhutla di sejumlah wilayah Riau
SUMBER:TRT Indonesia