Kualitas udara di Jakarta kembali masuk kategori tidak sehat pada Selasa (29/9), menurut indeks kualitas udara (AQI) mencapai 159 berdasarkan pemantauan IQAir. Kondisi tersebut menempatkan Jakarta dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada pagi hari.
IQAir mencatat Singapura berada di posisi teratas dengan AQI 182, diikuti Kolkata, India, dengan 180 dan Lahore, Pakistan, dengan 174. Pada pukul 09.00 waktu setempat, pemantauan IQAir juga menunjukkan AQI Singapura berada di angka 179, yang masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini turut berdampak pada Malaysia, Filipina, dan Thailand bagian selatan akibat kebakaran hutan di Indonesia.
Data pemerintah menunjukkan lebih dari 202.000 hektare lahan terbakar sepanjang Januari-Juli, meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pemantauan Nusantara Atlas memperkirakan hampir 896.000 hektare telah terbakar hingga akhir Agustus, dengan Papua Selatan menjadi wilayah terdampak terparah.
Kondisi kering akibat El Nino diperkirakan memperburuk kebakaran yang dipicu aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dan degradasi hutan. Dosen kehutanan IPB University Ati Dwi Nurhayati mengatakan El Nino berperan sebagai pemicu, bukan penyebab utama kebakaran.
“Di lahan gambut, hampir 100 persen kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia,” ujarnya kepada AFP.
Pemerintah telah mengerahkan personel pemadam, melakukan modifikasi cuaca dan pengeboman air, serta mencabut izin lima perusahaan yang diduga terkait kebakaran. Presiden Prabowo Subianto juga memerintahkan pembentukan lembaga baru untuk mengelola ekosistem gambut dan mangrove serta memperkuat pencegahan kebakaran.
Dampaknya terhadap kesehatan juga meningkat. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 170.000 kasus gangguan pernapasan di sejumlah provinsi terdampak di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran turut mengancam satwa liar, dengan 100 hewan, termasuk 53 orangutan, telah diselamatkan.
Di Jakarta, pemerintah daerah berupaya menekan emisi, terutama dari sektor transportasi. Pemprov DKI memperluas layanan Transjabodetabek dan mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum. Pemprov DKI menargetkan elektrifikasi armada Transjakarta secara bertahap hingga sekitar 10.000 bus listrik pada 2030.
Selain transportasi, pemerintah daerah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan fasilitas tersebut dapat membantu mengurangi kontribusi emisi Jakarta. “Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu,” katanya.
























