Meskipun jumlah titik panas (hotspot) menunjukkan penurunan, koalisi kelompok lingkungan hidup mendesak pemerintah Indonesia untuk tidak menurunkan tingkat kewaspadaan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karakteristik kebakaran di lahan gambut dinilai masih sangat rentan menyulut api kembali di tengah cuaca panas dan kering yang terus berlanjut.
Berdasarkan laporan Reuters, Indonesia tengah menghadapi musim kebakaran terparah dalam 11 tahun terakhir akibat dorongan cuaca super El Nino.
Kondisi ini tidak hanya memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan di dalam negeri, tetapi juga sempat mengirimkan kabut asap berbahaya ke Malaysia dan Singapura.
Putra Saptian, aktivis dari lembaga perlindungan gambut Pantau Gambut, menyatakan bahwa penurunan titik panas tidak boleh dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan pemerintah.
"Karakteristik kebakaran lahan gambut berbeda dengan tanah mineral. Sifat api yang merambat melalui material organik di bawah tanah dapat memicu bara api tersembunyi dan berpotensi memunculkan kembali api," ujar Putra dalam konferensi pers pada Senin (5/10).
Pantau Gambut mencatat, dari total 24 juta hektare lahan gambut di Indonesia, sekitar 16 juta hektare kini lebih rentan terbakar akibat kerusakan ekosistem, deforestasi, serta penurunan permukaan air tanah.
Studi mereka juga menunjukkan bahwa hanya 3 persen lahan gambut yang rusak akibat kebakaran periode 2015–2019 berhasil direforestasi.
Kendati demikian, Presiden Prabowo Subianto telah membentuk badan baru untuk pemulihan gambut dan mangrove pada bulan lalu.
Ancaman Kabut Asap Parah
Sementara itu, dampak karhutla dirasakan secara nyata di Palembang, Sumatera Selatan.
Kartika Lestari, seorang aktivis lingkungan setempat, melaporkan bahwa langit berubah menjadi kuning akibat kabut asap tebal.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Kehutanan menyatakan tetap siaga penuh dan berkomitmen melanjutkan upaya pemadaman, khususnya untuk mengendalikan api di lahan gambut.
Di sisi lain, Greenpeace mendesak pemerintah untuk menindak tegas perusahaan yang terindikasi terlibat dalam kebakaran, termasuk korporasi asal Malaysia yang beroperasi di Indonesia.
Dari Kuala Lumpur, Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Arthur Joseph Kurup, memperingatkan bahwa situasi terburuk kemungkinan besar masih akan terjadi.
Kondisi cuaca panas dan kering tersebut diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun depan.





















