Sejumlah negara di Asia-Pasifik melaporkan gangguan distribusi bahan bakar akibat dampak dari konflik Timur Tengah yang kini menekan pasokan energi, sementara perusahaan energi global Shell memperingatkan situasi dapat memburuk dalam waktu dekat.
Shell selain menjadi pemain inti dalam pasar energi global, ia juga menjadi salah satu pihak yang paling vokal memperingatkan dampak konflik antara AS-Israel dan Iran terhadap pasokan energi dan ekonomi global.
CEO Shell Wael Sawan menegaskan bahwa tekanan saat ini lebih cepat dirasakan pada bahan bakar hasil kilang dibandingkan minyak mentah.
“Avtur sudah terdampak, dan diesel akan segera menyusul,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa bensin kemungkinan menjadi berikutnya seiring meningkatnya permintaan musiman di belahan bumi utara.

Badan Energi Internasional (IEA) sendiri telah mengoordinasikan pelepasan 400 juta barel cadangan minyak darurat oleh 32 negara anggotanya—langkah terbesar sepanjang sejarah. Namun, lembaga itu menekankan bahwa pemulihan stabilitas tetap bergantung pada normalisasi pengiriman melalui Hormuz.
Filipina
Sejumlah negara mulai mengambil langkah darurat. Filipina menetapkan status darurat energi nasional, dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr. memperingatkan adanya “ancaman langsung” terhadap pasokan.
Pemerintah Filipina mengaktifkan respons lintas sektor untuk menjaga distribusi energi dan melindungi layanan vital, setelah sebelumnya mendorong penghematan konsumsi bahan bakar.
Australia
Di Australia, kekurangan bensin dan diesel terjadi secara lokal di New South Wales. Pemerintah setempat mencatat puluhan SPBU kehabisan stok sepenuhnya dan ratusan lainnya kekurangan jenis bahan bakar tertentu.
Otoritas menilai masalah utama terletak pada distribusi, bukan ketersediaan nasional, dan tengah menyiapkan pusat operasi darurat untuk mengatur pasokan.
Selandia Baru
Selandia Baru menyatakan cadangan energi masih cukup untuk sekitar tujuh pekan, namun tetap bersiaga menghadapi gangguan berkepanjangan. Perdana Menteri Christopher Luxon menyoroti lonjakan harga yang signifikan.
“Jika tagihan bahan bakar naik 30 atau diesel 60 persen sejak krisis dimulai, itu nyata,” katanya.
Korea Selatan, Jepang
Korea Selatan mempertimbangkan dukungan bagi sektor industri yang terdampak, sementara Jepang mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atas barang kebutuhan pokok di tengah kekhawatiran pasar.
Thailand
Tekanan harga energi turut menjalar ke sektor listrik. Thailand memperkirakan tarif listrik dapat naik hingga 18% pada periode Mei–Agustus akibat lonjakan harga LNG, dengan regulator menyiapkan skema tarif baru.
IEA memperingatkan bahwa krisis kini tidak hanya tercermin pada kenaikan harga, tetapi juga mulai mempengaruhi ketersediaan fisik bahan bakar.
Lembaga itu mendesak pemerintah dan masyarakat untuk menekan konsumsi melalui langkah darurat, termasuk kerja jarak jauh dan pengurangan perjalanan, guna meredam dampak yang lebih luas.
Perang yang dimulai ketika AS-Israel menyerang Ibu kota Iran Teheran pada 28 Februari telah menghambat arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur utama perdagangan energi dunia.
IEA menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global, mendorong harga minyak mentah menembus US$100 per barel serta memicu lonjakan harga bahan bakar olahan seperti diesel, avtur, dan LPG.













