Blokade AS di Selat Hormuz dan dampaknya terhadap rantai pasok global
KONFLIK ISRAEL-IRAN
6 menit membaca
Blokade AS di Selat Hormuz dan dampaknya terhadap rantai pasok globalSaat presiden AS memerintahkan blokade laut di Teluk untuk menekan Iran agar menerima syarat Washington, para ahli memperingatkan bahwa kebuntuan berkepanjangan bisa mengguncang pasar global dan mengganggu aliran energi serta rantai pasok dunia.
Kapal-kapal berlayar melintasi Teluk Arab menuju Selat Hormuz saat matahari terbenam di Uni Emirat Arab, 23 Maret 2026. / AP
14 jam yang lalu

Ketika perhatian global tertuju ke Islamabad dengan harapan adanya jalan keluar diplomatik dari eskalasi ketegangan AS–Israel–Iran, perundingan antara Washington dan Tehran berakhir tanpa terobosan, memicu kekhawatiran bahwa konflik memasuki fase baru yang lebih berbahaya.

Beberapa jam setelah negosiasi gagal, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan retorikanya dengan mengumumkan blokade laut yang menargetkan ekspor minyak Iran di Teluk dan menugaskan CENTCOM untuk menegakkan kebijakan tersebut.

Langkah ini menjadi eskalasi signifikan setelah runtuhnya perundingan di Pakistan, yang kemudian diikuti perintah Washington untuk memblokade lalu lintas maritim yang terkait Iran.

Tehran mengeluarkan peringatan keras: jika keamanan pelabuhannya di Teluk Persia dan Laut Oman terancam, tidak ada pelabuhan di perairan tersebut yang akan aman, menurut pernyataan yang disampaikan media pemerintah.

Meski blokade Trump mengingatkan pada taktik tekanan AS sebelumnya, terutama terhadap Venezuela, para analis menilai perbandingan tersebut terbatas.

Taruhan geopolitik, kondisi geografis, dan implikasi ekonomi global terkait Iran—terutama karena posisinya di Selat Hormuz—membuat konfrontasi ini jauh lebih menentukan.

Baik Venezuela maupun Iran sama-sama negara kaya minyak yang secara historis memiliki posisi anti-Barat, terutama sebelum penggulingan Nicolás Maduro dalam operasi pasukan khusus yang dipimpin AS di Caracas.

Namun Venezuela berada di kawasan Amerika, dekat wilayah AS, sementara Iran berada di Timur Tengah yang sangat volatil dan mengontrol Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.

“Dari sisi dampak terhadap ekonomi global dan skala manuver militer AS di Karibia dan Samudra Hindia dekat Selat Hormuz, saya rasa tidak bisa dibandingkan,” kata ekonom Türkiye Nurullah Gür kepada TRT World.

Iran bukan Venezuela

Berbeda dengan kasus Venezuela, yang tidak melibatkan konflik militer langsung antara AS dan Venezuela, pemerintahan Trump dan pemerintah Netanyahu terlibat dalam konflik lima minggu dengan Iran, namun belum memperoleh dominasi militer yang jelas.

Tehran tetap mempertahankan pengaruhnya dengan mengendalikan Selat Hormuz, yang mengganggu pengiriman minyak dan perdagangan, termasuk kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS.

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Iran, yang pemimpin tertinggi serta sejumlah tokoh politik dan militernya tewas dalam serangan gabungan AS–Israel dalam Operasi Epic Fury, tidak menunjukkan keinginan menerima “syarat” delegasi Amerika dalam perundingan di Islamabad.

Hal ini menunjukkan bahwa Tehran kemungkinan besar tidak akan tunduk pada tekanan Washington, bahkan jika eskalasi militer berlanjut.

Sebaliknya, di Venezuela, setelah penangkapan Nicolás Maduro oleh pasukan AS, kepemimpinan yang tersisa disebut mulai bergerak menuju kesepahaman dengan Washington dan lebih menyesuaikan diri dengan tuntutan Trump.

TerkaitTRT Indonesia - Apa yang ingin AS dapatkan dari Venezuela pasca-Maduro?

“Walaupun blokade AS terhadap Venezuela dan Iran memiliki kesamaan dalam fungsi memblokir pengiriman minyak ke China, dampak ekonominya terhadap ekonomi regional dan global jelas berbeda,” kata Prof. Mehmet Babacan dari Universitas Marmara kepada TRT World.

“Dalam jangka panjang, blokade AS–Iran berarti mengimpor inflasi bagi semua pihak. Di kasus Venezuela, dampaknya lebih terbatas,” ujarnya, merujuk pada kenaikan harga global mulai dari minyak hingga pangan akibat perang Iran.

Penurunan prospek ekonomi global

Para ekonom memperkirakan bahwa blokade AS dan kemungkinan berlanjutnya perang Iran akan memicu volatilitas harga komoditas, meningkatkan risiko inflasi global, serta mendorong kenaikan suku bunga.

“Blokade ganda di Selat Hormuz akan semakin menekan ekonomi global, memperburuk ekspektasi harga minyak dan gas, terutama di pasar berjangka. Dampaknya pada permintaan komoditas akan mengganggu produksi dan rantai pasok global dalam jangka menengah,” kata Babacan.

Lembaga keuangan internasional, termasuk IMF, kini memperkirakan adanya “penurunan proyeksi pertumbuhan global” akibat gangguan pasokan, kerusakan infrastruktur di kawasan Teluk dan Iran, serta menurunnya kepercayaan konsumen.

UNDP juga memperkirakan perang ini dapat mendorong sedikitnya 32 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan secara global.

“Jika bukan karena guncangan ini, kami justru akan menaikkan proyeksi pertumbuhan global,” kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam pidatonya pekan lalu di Washington.

Volatilitas ekonomi yang meningkat juga dapat membuka peluang spekulasi di pasar komoditas, mempercepat arus modal global tergantung tingkat risiko politik dan ekonomi, menurut seorang penasihat senior Bank Sentral Türkiye yang berbicara anonim.

“Karena ketidakpastian besar akibat blokade dan perang Iran, dampaknya terhadap ekonomi regional dan global belum dapat diprediksi secara akurat. Yang pasti adalah hilangnya output dalam jangka panjang,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa ekonomi Israel, yang tidak terlalu bergantung pada perdagangan melalui Selat Hormuz dibanding negara Teluk dan negara pengimpor energi besar seperti China, India, dan Jepang, kemungkinan hanya terdampak minimal.

Namun banyak ahli berpendapat bahwa Israel telah menyeret Amerika Serikat ke dalam perang yang tidak perlu dengan Iran, yang pada akhirnya merugikan posisi politik global Washington serta kepentingan ekonomi negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada Selat Hormuz.

“Tegangan dan blokade akan mengubah posisi negara-negara Teluk dalam keuangan, logistik, dan rantai pasok regional/global serta lanskap politik Iran, kemungkinan besar ke arah negatif. Ini sejauh ini merupakan situasi kalah-kalah bagi seluruh kawasan,” kata Babacan.

Sebuah laporan Wall Street Journal menyebut Arab Saudi melobi agar blokade AS tidak berlangsung lama, meski belum ada pernyataan resmi dari negara-negara Teluk terkait langkah terbaru Trump terhadap Iran.

‘Jangan tangkap kapal China!’

Meski blokade AS di Selat Hormuz mulai berlaku sejak Senin, sebuah kapal berbendera China yang dikenai sanksi AS, Rich Starry, melintasi wilayah tersebut pada Selasa tanpa intervensi Amerika, menurut data pelayaran LSEG.

“Kapal-kapal kami tetap bergerak keluar masuk perairan Selat Hormuz,” kata Menteri Pertahanan China Dong Jun, sebagai bentuk penolakan terhadap blokade AS. Ia memperingatkan Trump bahwa Beijing memiliki “perjanjian perdagangan dan energi dengan Iran” dan meminta AS “tidak mencampuri urusan kami”.

Dalam pernyataan lain, ia juga menegaskan bahwa “Iran mengontrol Selat Hormuz, dan jalur itu terbuka untuk kami”, serta menyebut blokade AS sebagai “tindakan ceroboh”.

Menurut analis politik Luciano Zaccara, para penasihat Trump disebut telah memperingatkan agar “jangan berani menangkap kapal China”, merujuk pada melintasnya kapal China di tengah blokade AS, yang disebutnya sebagai “eskalasi jelas dan langkah yang tidak perlu”.

“Sejauh ini tampaknya blokade AS hanyalah gertakan, karena kapal China sudah melintas tanpa masalah,” kata Zaccara kepada TRT World.

Para ahli memperingatkan bahwa jika blokade benar-benar diberlakukan secara penuh, ekonomi Asia Pasifik akan menjadi yang paling terpukul karena sebagian besar impor energinya berasal dari kawasan Teluk. Estimasi UNDP juga menyebut kawasan ini bisa mengalami kerugian output antara 97 miliar hingga 299 miliar dolar akibat kenaikan biaya transportasi, listrik, dan pangan.

“Dampak yang tidak merata dari gangguan mendadak transportasi minyak akan menimbulkan konsekuensi besar bagi ekonomi Asia seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Filipina, dan Indonesia dalam rantai pasok global, sementara dampaknya terhadap ekonomi Eropa relatif lebih kecil,” kata Babacan.

Ekonom lain menambahkan bahwa negara Asia seperti Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan sekutu dekat AS, juga sangat bergantung pada impor minyak Timur Tengah dan dapat menghadapi kesulitan serius jika blokade benar-benar terjadi.

Meski ekonomi Asia paling rentan terhadap perang dan blokade yang dapat memicu krisis minyak regional, dampaknya juga akan merembet secara global karena Asia menyumbang lebih dari separuh produksi manufaktur dunia, menurut Nurullah Gür.

“Ini bisa memicu stagflasi global, situasi ketika harga tetap tinggi akibat biaya energi yang meningkat bersamaan dengan stagnasi ekonomi, yang membuat dunia menghadapi skenario finansial yang buruk,” ujarnya.

Akibatnya, China sebagai ekonomi terbesar kedua dunia yang berkepentingan mencegah skenario tersebut, kemungkinan akan menjadi pihak yang paling mendorong tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat demi menjaga kelancaran aliran minyak melalui Selat Hormuz, tambahnya.

SUMBER:TRT World
Jelajahi
Indonesia waspadai dampak kegagalan perundingan Islamabad bagi stabilitas kawasan
Harga minyak dunia melonjak usai AS umumkan blokade laut pelabuhan Iran
'Kegelapan abadi': Apakah Netanyahu berusaha 'mengeksploitasi ambiguitas' gencatan senjata AS-Iran?
Media AS soroti gencatan senjata AS-Iran, peran Pakistan dan rapuhnya kesepakatan jadi perhatian
Iran sebut klausul penting dalam kerangka 10 poin dilanggar jelang perundingan damai
Hezbollah luncurkan roket ke Israel utara sebagai respons serangan terbaru di Lebanon
Iran ajukan proposal berisikan 10 poin untuk akhiri perang
China, Rusia, Türkiye, Pakistan dapat bekerja sama untuk jamin perdamaian di Timur Tengah: Utusan Iran
Trump menandakan peran AS dalam amankan Selat Hormuz setelah gencatan senjata dengan Iran
Dalam gambar: Ribuan orang turun ke jalan di Teheran setelah gencatan senjata dengan AS diumumkan
Bagaimana Trump beralih dari ancaman 'penghancuran' Iran ke gencatan senjata dua minggu
Trump setuju hentikan serangan ke Iran selama dua minggu
Iran: AS menerima proposal perdamaian 10 poin 'secara prinsip'
Respons global bermunculan setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran
Serangan udara menghantam bandara dan kota-kota Iran, sementara ofensif AS-Israel semakin intensif
Israel mengatakan telah menyerang situs petrokimia Iran di Shiraz
Peran Pakistan dalam pembicaraan perdamaian Timur Tengah 'mendekati tahap kritis,' kata Iran
AS dan Iran bahas gencatan senjata 45 hari saat mediator dorong kesepakatan sebelum tenggat: laporan
Jumlah korban tewas meningkat menjadi 17 di Baharestan, Tehran, setelah serangan AS-Israel
Pesawat AS yang hilang dalam misi penyelamatan di Iran menelan biaya lebih dari $100 juta per unit: WSJ