BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
OECD turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat ketegangan AS-Iran
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026-2027, seiring meningkatnya risiko global dan harga energi tinggi.
OECD turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat ketegangan AS-Iran
OECD merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dari sebesar 5 persen menjadi 4,8 persen. / Reuters
14 jam yang lalu

Poin utama:

  • Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026-2027.

  • OECD merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dari 5 persen menjadi 4,8 persen.

  • Penurunan target pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan kenaikan harga energi dan tensi geopolitik yang meningkat.


Dalam laporan OECD Economic Outlook: Testing Resilience yang dirilis Maret 2026, lembaga internasional ini menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5 persen menjadi 4,8 persen untuk tahun 2026. Sementara proyeksi 2027 direvisi dari 5,1 persen menjadi 5 persen.

Angka ini berada di bawah target pertumbuhan APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, penurunan proyeksi dipicu oleh kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik yang meningkat di dunia. OECD menambahkan, tekanan pertumbuhan juga datang dari inflasi yang diperkirakan mencapai 3,4 persen.

“Inflasi menekan daya beli masyarakat. Stimulus fiskal pemerintah memang membantu mendorong konsumsi, tetapi belum mampu menahan dampak inflasi secara penuh,” kata OECD.

Ketegangan Timur Tengah picu risiko energi

OECD mencatat konflik di Timur Tengah merusak infrastruktur energi dan berpotensi menurunkan produksi minyak, ditambah penutupan Selat Hormuz yang menghambat logistik energi. Akibatnya, pasokan menipis dan harga melonjak, yang selanjutnya menekan pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) juga memperingatkan dampak kenaikan harga energi terhadap kawasan Asia Pasifik. Kepala Ekonom ADB, Albert Park, menyebut pertumbuhan ekonomi kawasan berkembang diperkirakan turun hingga 1,3 persen pada 2026-2027 jika disrupsi energi berlanjut lebih dari setahun, sementara inflasi diperkirakan naik 3,2 persen.

Langkah OECD ini menjadi peringatan bagi Indonesia untuk memperkuat strategi mitigasi risiko ekonomi, terutama menghadapi ketidakpastian harga energi dan ketegangan geopolitik global.

TerkaitTRT Indonesia - Asia Tenggara percepat pengembangan nuklir di tengah krisis energi global
SUMBER:TRT Indonesia