Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, melakukan pertemuan strategis dengan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, di Singapura pada Jumat (10/4). Pertemuan ini menghasilkan komitmen kuat untuk mempererat kerja sama energi guna menghadapi gangguan pasokan global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sebagai pusat perdagangan minyak utama di Asia, Singapura merupakan pemasok bensin terbesar bagi Australia, sekaligus penyedia utama diesel dan bahan bakar avtur. Di sisi lain, Australia tengah menghadapi krisis pasokan diesel domestik yang mulai mengguncang sektor pertanian dan pertambangan—dua pilar utama ekonomi Negeri Kanguru tersebut.
Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin sepakat untuk melakukan "upaya maksimal" dalam menjamin kelancaran aliran pasokan esensial, termasuk diesel dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG).
"Kami menegaskan kembali komitmen untuk bekerja sama, terutama di masa krisis, demi mendukung sistem perdagangan multilateral yang tangguh dan berbasis aturan guna menjaga stabilitas selama periode gangguan global," bunyi pernyataan resmi tersebut.
Dampak penutupan Selat Hormuz
Kekhawatiran Australia dan negara-negara Asia lainnya meningkat tajam setelah Iran menutup Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintas sebelum konflik pecah. Hingga saat ini, lalu lintas kapal di selat tersebut masih berada pada titik terendah meskipun terdapat kesepakatan damai yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.
Australia, yang mengonsumsi sekitar satu juta barel minyak per hari, sangat bergantung pada impor. Tahun lalu, 84 persen kebutuhan produk minyak bumi Australia dipenuhi dari luar negeri. Penurunan jumlah kilang domestik dari delapan pada tahun 2005 menjadi hanya dua saat ini, membuat posisi Australia kian rentan.
Data dari asuransi NRMA pada akhir Maret menunjukkan betapa krusialnya peran Singapura bagi Australia; negara kota tersebut menyumbang 54,7 persen atau hampir 6 miliar liter impor bensin Australia.
Komitmen tanpa hambatan ekspor
Meski kilang-kilang di Singapura mulai memangkas produksi akibat gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah, PM Lawrence Wong menegaskan bahwa Singapura tidak memiliki rencana untuk membatasi ekspor.
"Kami tidak melakukan (pembatasan) itu bahkan di hari-hari tergelap pandemi COVID-19, dan kami tidak akan melakukannya selama krisis energi ini. Hal itu tidak akan terjadi," tegas Wong.
Sebagai bentuk keseriusan, komitmen yang disepakati pada Jumat ini akan dituangkan ke dalam protokol yang mengikat secara hukum dalam perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) yang sudah ada antara kedua negara.
Konteks regional dan posisi Indonesia
Langkah proaktif Australia ini tidak hanya menyasar Singapura. Sejak awal Maret, PM Albanese dan Menteri Luar Negeri Penny Wong telah bergerak cepat menjalin komunikasi dengan mitra-mitra di Asia. Selain Singapura, Australia dilaporkan telah mengadakan pembicaraan serupa dengan Indonesia, Brunei, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan China.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi sinyal penting terkait ketahanan energi regional. Sebagai tetangga dekat Australia dan salah satu pemain kunci dalam rantai pasok energi di Asia Tenggara, stabilitas distribusi melalui Selat Malaka dan keamanan energi di kawasan menjadi prioritas yang juga bersinggungan dengan kepentingan nasional Jakarta dalam menghadapi ketidakpastian pasar minyak dunia.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa beberapa stasiun pengisian bahan bakar di Australia mulai kehabisan stok akibat aksi beli panik (panic buying) oleh warga, yang diperparah oleh keterbatasan stok nasional dan jaringan distribusi yang sangat luas.










