Uni Eropa memperingatkan risiko global dari berlanjutnya penutupan Selat Hormuz di tengah konflik Iran yang telah berlangsung selama dua bulan, dengan dampak yang semakin terasa terhadap perdagangan energi internasional dan stabilitas ekonomi global.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyampaikan peringatan adanya “preseden berbahaya” akibat konflik yang berkepanjangan tersebut. Ia menyampaikan pernyataan itu di Brunei saat menghadiri pertemuan EU–ASEAN, dikutip oleh Anadolu, pada Selasa.
Ia menegaskan bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dapat memperluas dampak krisis di berbagai kawasan, terutama di tengah ketergantungan global terhadap distribusi energi dari Timur Tengah.
Selat Hormuz merupakan jalur transit utama bagi hampir seperlima pasokan minyak dunia, serta berbagai komoditas penting lainnya. Konflik yang berlanjut sejak saat itu telah mengganggu distribusi minyak dan gas, mendorong lonjakan harga energi di pasar internasional, termasuk di kawasan Eropa dan Asia.

Peningkatan impor minyak Rusia
Kallas mengatakan situasi tersebut menunjukkan bahwa krisis global saat ini tidak dapat dihadapi secara unilateral dan membutuhkan respons kolektif dari komunitas internasional. Ia juga menyoroti bahwa jalur diplomasi sejauh ini belum menghasilkan kemajuan signifikan untuk mengakhiri konflik.
Dalam pertemuan dengan negara-negara Asia Tenggara, Kallas juga mendorong mitra ASEAN untuk mendiversifikasi sumber energi dan tidak meningkatkan ketergantungan pada minyak Rusia.
“Itulah sebabnya kami terus mendorong diversifikasi sumber daya dan mencari pasokan dari tempat lain, bukan dari Rusia,” ujarnya kepada Reuters.
Pernyataan itu muncul di tengah laporan bahwa sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Philippines, tengah menjajaki peningkatan impor minyak dari Rusia untuk mengatasi tekanan pasokan.
Ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Teluk terus memicu kekhawatiran bahwa gangguan terhadap salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia dapat memperburuk ketidakstabilan energi global dalam jangka panjang.














