Pemerintah Indonesia tengah memperkuat koordinasi lintas lembaga untuk menjamin keselamatan kapal-kapalnya yang melintas di Selat Hormuz, perairan strategis di Teluk Persia, di tengah meningkatnya ketegangan akibat serangan dan balasan militer antara Iran, AS, dan Israel.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan dialog dengan Kedutaan Besar Iran di Jakarta serta pihak terkait di Tehran. “Ada respons positif dari pihak Iran mengenai keselamatan kapal milik Pertamina Group yang melintasi Selat Hormuz,” ujarnya kepada AFP.
Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping, yakni Pertamina Pride yang membawa minyak mentah untuk kebutuhan domestik dan Gamsunoro yang mengangkut bahan bakar untuk konsumen luar negeri, tengah dipersiapkan agar bisa melewati perairan tersebut dengan aman.
Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak terkait untuk menjamin proses transit berjalan lancar sekaligus menjaga ketahanan pasokan energi nasional.
Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber impor minyak dan bahan bakar, termasuk membuka opsi dari wilayah di luar Timur Tengah.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar opsi pasokan energi lebih luas dan pasokan dalam negeri tetap aman. Pada 2025, Indonesia mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dari Afrika, AS, dan Asia Tenggara.
Selain itu, koordinasi teknis dan operasional terus dilakukan agar kapal-kapal Pertamina dapat melintas Selat Hormuz tanpa risiko, termasuk persiapan awak kapal dan asuransi.
Iran sebelumnya juga menyepakati jalur aman bagi kapal minyak Thailand melalui Selat Hormuz, seperti diungkapkan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, menunjukkan upaya diplomasi regional dalam menjaga kelancaran transportasi minyak.













