Polusi udara ekstrem ini dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Kalimantan, Indonesia, yang memicu lonjakan gangguan pernapasan pada warga setempat.
Operasi gabungan menggunakan pesawat C-130 ini menyemprotkan larutan garam di ketinggian 5.000–7.000 kaki. Selain mengurangi konsentrasi polutan, misi ini ditargetkan untuk mengisi cadangan air di 3 bendungan dan 13 area tangkapan air menjelang potensi kekeringan.
Kualitas udara Sarawak memburuk drastis; tujuh lokasi mencatat Indeks Pencemaran Udara (IPU) di atas 300 (level berbahaya), dengan kondisi terparah di Kota Serian (IPU 475). Warga diimbau membatasi aktivitas luar ruangan dan mengenakan masker.
