Produsen nikel di Indonesia mulai mengurangi produksi bahan baku baterai kendaraan listrik akibat lonjakan harga sulfur yang dipicu gangguan pasokan global terkait konflik Iran. Sejumlah sumber industri menyebutkan bahwa output mixed hydroxide precipitate (MHP) yang komponen penting dalam rantai pasok baterai dipangkas setidaknya 10 persen sejak bulan lalu.
Pemangkasan ini terutama terjadi di fasilitas yang menggunakan asam sulfat dalam proses pengolahan bijih nikel, termasuk pabrik yang didukung perusahaan China seperti Huayou Cobalt, Lygend Resources, dan Tsingshan Group.
Meski produksi nikel nasional secara keseluruhan masih tergolong tinggi, pasokan MHP dilaporkan mulai mengetat karena sejumlah fasilitas sebelumnya beroperasi di atas kapasitas akibat tingginya permintaan dan margin. Kini, produksi kembali disesuaikan ke tingkat normal.
Harga sulfur spot yang dikirim ke Indonesia kini menembus lebih dari $800 per ton, bahkan dalam beberapa transaksi mencapai $1.000, jauh di atas kisaran sekitar $500 sebelum konflik.
Dalam menghadapi tekanan ini, sejumlah produsen mulai mencari alternatif pasokan sulfur. Namun upaya tersebut tidak mudah karena keterbatasan volume dan jarak pengiriman yang lebih jauh. Beberapa pelaku industri juga mencoba mengimpor asam sulfat, meskipun menghadapi tantangan logistik serta perizinan.
Biaya operasional naik
Menurut laporan Reuters, lonjakan harga sulfur turut meningkatkan biaya operasional fasilitas high pressure acid leach (HPAL), dengan porsi biaya kini mencapai sekitar 30 hingga 35 persen, naik dari rata-rata sebelumnya sekitar 25 persen.
Tekanan ini muncul bersamaan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang memperketat produksi bijih nikel. Kuota tambang tahun 2026 ditetapkan di kisaran 250 hingga 270 juta wet metric ton, turun dari 379 juta pada 2025. Selain itu, perubahan formula harga acuan nikel yang mulai berlaku 15 April juga diperkirakan akan menambah tekanan terhadap margin produsen.
Penguatan ekosistem ini juga didukung oleh investasi industri, termasuk dari perusahaan seperti GEM yang mengembangkan fasilitas produksi terintegrasi di Morowali. Selain fokus pada kapasitas produksi, pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan dan kolaborasi internasional dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri.
Dengan tekanan biaya dan tantangan pasokan di satu sisi, serta peluang besar dalam rantai pasok kendaraan listrik di sisi lain, industri nikel Indonesia kini berada di persimpangan antara risiko jangka pendek dan potensi strategis jangka panjang.















