Indonesia melalui Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan) menyatakan kesiapan untuk mengirimkan tim pencarian dan pertolongan guna membantu penanganan dampak gempa bumi besar di Venezuela, setelah pemerintah negara tersebut menetapkan status darurat nasional.
Deputi Operasi Basarnas, Edy Prakoso, mengatakan di Jakarta pada Kamis bahwa langkah pengiriman tim akan sepenuhnya bergantung pada keputusan resmi pemerintah pusat. Ia menegaskan bahwa Basarnas berada dalam posisi siaga untuk dikerahkan kapan saja jika diminta.
“Basarnas selalu siap bila diminta untuk membantu evakuasi korban gempa di Venezuela atas keputusan pemerintah pusat,” ujar Edy, dikutip oleh Antara.
Indonesia sendiri memiliki tim bantuan internasional terlatih yang tergabung dalam Indonesia Search and Rescue (INASAR), yang merupakan bagian dari jaringan global International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG). Tim ini telah mengantongi sertifikasi kelas menengah dan memiliki pengalaman dalam penanganan bencana gempa, termasuk di Myanmar dan Türkiye.
Meski kesiapan telah disampaikan, hingga kini belum ada permintaan resmi dari Venezuela terkait bantuan kemanusiaan maupun operasi SAR. Basarnas juga belum menerima konfirmasi apakah otoritas diplomatik Venezuela telah mengajukan permohonan melalui jalur resmi kepada pemerintah Indonesia.
Edy menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brasil untuk memastikan kondisi warga negara Indonesia di wilayah terdampak.
“Kami juga sudah menanyakan langsung ke KBRI di Brasil untuk mengonfirmasi apakah ada WNI yang ikut terdampak,” katanya.
Sebelumnya, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan dua gempa kuat dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu, sejumlah peringatan tsunami juga dikeluarkan.
Pemerintah Venezuela, melalui Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodríguez, menetapkan status darurat nasional menyusul kerusakan luas akibat gempa. Salah satu dampak signifikan adalah penutupan total bandara utama Maiquetía yang mengalami kerusakan parah.
Korban tewas telah mencapai sedikitnya 235 orang, sementara sekitar 4.300 lainnya mengalami luka-luka. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pencarian yang terus berlangsung.
Di tengah situasi darurat, banyak warga terpaksa kehilangan tempat tinggal dan memilih bertahan di ruang terbuka, khawatir bangunan yang rusak dapat runtuh sewaktu-waktu.

















