Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi guna menjaga laju inflasi dengan berfokus pada stabilisasi harga pangan bergejolak (volatile food) serta pengendalian berbagai biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memantau komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap inflasi. Menurutnya, kenaikan harga emas yang sempat terjadi kini mulai mereda, sementara tekanan masih datang dari kelompok harga pangan bergejolak.
"Tentu kita melihat beberapa komoditas yang bisa mempengaruhi kenaikan inflasi. Kalau di periode yang lalu kan kita lihat emas naik, tapi kita lihat sudah turun. Kemudian yang masih meningkat itu volatile food," ujar Airlangga dikutip oleh Antara.
Airlangga menjelaskan pemerintah akan mempercepat penanganan sejumlah komoditas pangan, termasuk bawang putih, agar tidak terus memberi tekanan terhadap inflasi.
"Sehingga volatile food termasuk bawang putih itu perlu ditangani secara baik. Dan beberapa yang akibat daripada harga packaging yang naik. Itu yang tadi kita bahas, dengan kita minta supaya PMK (Peraturan Menteri Keuangan)-nya segera dikeluarkan," katanya.
Menjaga stabilitas harga
Menurut Airlangga, kenaikan harga kemasan memiliki dampak luas karena hampir seluruh produk pangan menggunakan plastik sebagai bahan pengemasan. Ia menambahkan pemerintah telah menerbitkan kebijakan yang berkaitan dengan sektor petrokimia, LPG, dan suku cadang.
Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga, pemerintah juga telah menetapkan pembebasan bea masuk untuk LPG dan suku cadang. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya operasional dan logistik, termasuk di sektor transportasi yang turut memengaruhi inflasi.
Pemerintah berharap kombinasi pengendalian harga pangan, penurunan biaya produksi, serta berbagai insentif fiskal tersebut dapat membantu meredam tekanan inflasi pada periode mendatang.























