Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia tetap terjaga pada Mei 2026 meski mencatat pertumbuhan tahunan yang sedikit lebih tinggi. Bank Indonesia (BI) melaporkan total ULN mencapai $444,4 miliar, tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), naik tipis dibandingkan pertumbuhan 2,0 persen pada April 2026.
Dalam keterangan resminya yang dirilis Rabu (15/7), BI menyebut kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan utang sektor publik yang mencakup pemerintah dan bank sentral, di tengah kontraksi utang luar negeri swasta yang semakin mengecil.
Struktur utang Indonesia juga dinilai tetap sehat. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 29,9 persen, sementara utang berjangka panjang mendominasi 83,9 persen dari total utang luar negeri.
Posisi utang luar negeri pemerintah pada Mei 2026 mencapai $217,3 miliar, atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut BI, perkembangan tersebut ditopang oleh aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, di tengah pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.
Alokasi terbesar digunakan untuk sektor kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,0 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,6 persen, pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen. Hampir seluruh utang pemerintah juga berjangka panjang.
Empat strategi menjaga fiskal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan rasio utang pemerintah terhadap PDB masih berada dalam batas aman.
"Meskipun rasio utang meningkat dari 39,81 persen pada 2024 menjadi 40,54 persen pada 2025, angkanya masih jauh di bawah batas maksimal 60 persen terhadap PDB yang ditetapkan dalam undang-undang," kata Purbaya.
Menurut Purbaya, pemerintah akan menjaga keberlanjutan fiskal melalui empat strategi utama, yaitu mengembalikan surplus primer secara bertahap, meningkatkan penerimaan negara, memperbaiki efisiensi belanja, serta mengelola utang secara aktif melalui pengalihan utang (debt switch), pembelian kembali utang (buyback), dan konversi pinjaman.
BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk memantau perkembangan utang luar negeri sekaligus menjaga struktur utang tetap sehat. Pemanfaatan utang luar negeri akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap meminimalkan risiko terhadap stabilitas perekonomian.






















