Rusia melancarkan serangan besar-besaran menggunakan drone dan rudal ke wilayah Kiev, Ukraina, pada Senin dini hari. Sedikitnya 10 orang tewas dan 61 lainnya terluka akibat serangan tersebut, menurut pejabat Ukraina.
Kepala Administrasi Militer Kota Kiev, Tymur Tkachenko, mengatakan melalui Telegram bahwa sembilan orang tewas dan 46 lainnya mengalami luka-luka di ibu kota. Serangan itu juga menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah.
"Sayangnya, ini belum merupakan data akhir. Upaya penyelamatan masih terus berlangsung," ujar Tkachenko, dikutip dari Anadolu.
Gubernur Wilayah Kiev, Mykola Kalashnyk, mengatakan satu orang tewas dan 15 lainnya terluka di sejumlah komunitas di sekitar ibu kota.
"Rusia sekali lagi dengan sengaja menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil," tulis Kalashnyk melalui Telegram.
Wali Kota Kiev Vitali Klitschko mengatakan puing-puing serangan menghantam sebuah gedung apartemen 25 lantai di Distrik Darnytskyi sehingga sejumlah penghuni terjebak di lantai atas. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 22 orang.
Rusia klaim sasar fasilitas militer
Serangan lain memicu kebakaran di lantai atas sebuah gedung apartemen 30 lantai di distrik yang sama sehingga penghuni terpaksa dievakuasi, kata Klitschko.
Di Distrik Podilskyi, puing-puing serangan menghancurkan sebagian gedung apartemen 21 lantai. Sementara itu, kebakaran juga melanda sebuah gudang dan bangunan nonhunian di Distrik Obolonskyi.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan tersebut dilakukan menggunakan senjata presisi jarak jauh yang diluncurkan dari darat, laut, dan udara, serta drone tempur. Moskow mengklaim serangan itu merupakan respons atas apa yang disebut sebagai "serangan teroris" Ukraina terhadap infrastruktur sipil di Rusia.
Menurut kementerian tersebut, sasaran serangan meliputi fasilitas industri pertahanan, fasilitas energi dan bahan bakar di Kiev dan wilayah Kiev, serta infrastruktur pangkalan udara militer di wilayah Dnipropetrovsk, Poltava, Cherkasy, dan Chernihiv.
Klaim dari kedua belah pihak belum dapat diverifikasi secara independen mengingat perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung.














