PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi bahwa kapal tanker minyak raksasa (Very Large Crude Carrier/VLCC) milik mereka, Pertamina Pride, saat ini sedang dalam fase pengurusan izin berlayar (clearance) sebelum dapat melintasi dan keluar dari Selat Hormuz. Langkah ini menyusul keberhasilan kapal sejenis, Gamsunoro, yang telah lebih dulu keluar dari kawasan tersebut pada bulan lalu.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa proses clearance untuk Pertamina Pride saat ini masih berjalan terus. Mengingat situasi di kawasan Timur Tengah yang masih rentan—meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata di antara pihak yang bertikai—kapal tersebut kemungkinan harus menunggu sedikit lebih lama jika tensi geopolitik kembali memanas.
"Proses clearance masih berlangsung untuk Pertamina Pride," ujar Baron di Jakarta, Kamis (2/7).
Minyak mentah yang diangkut oleh kapal Pertamina Pride ini sangat krusial bagi ketahanan energi nasional, karena ditujukan untuk memasok kilang minyak (refinery) Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Kapal akan langsung berlayar menuju Indonesia begitu berhasil keluar dari selat strategis tersebut.
Terkait keberhasilan lolosnya kapal Gamsunoro sebelumnya, Baron mengungkapkan bahwa hal itu merupakan buah dari koordinasi intensif antara Pertamina dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Berdasarkan data dari PT Pertamina International Shipping (PIS), kapal VLCC Gamsunoro tercatat telah bertolak dari Teluk Persia pada 24 Juni lalu pukul 01.06 waktu Dubai. Kapal tersebut tiba di mulut Selat Hormuz pada pukul 13.00 waktu setempat, dan berhasil keluar sekitar empat jam kemudian menuju titik aman untuk melanjutkan perjalanan ke tanah air.
Selama melintasi kawasan rawan tersebut, pergerakan kapal terus dipantau selama 24 jam penuh oleh PIS. Seluruh kru kapal juga melakukan koordinasi intensif dengan petugas pusat krisis (crisis center) di darat demi memastikan keselamatan mereka.
Pihak manajemen Pertamina menilai keberhasilan keluarnya kapal Gamsunoro dari Selat Hormuz menjadi bukti keberhasilan perusahaan dalam menjaga kelancaran operasional dan pasokan energi nasional, di tengah tingginya ketegangan geopolitik pada titik jalur energi (choke point) paling strategis di dunia tersebut.


















