Pemerintah Indonesia melalui badan pengelola investasi berdaulat (Sovereign Wealth Fund) Danantara Indonesia, mengumumkan telah merampungkan rencana restrukturisasi utang perusahaan pengelola kereta cepat pertama di Asia Tenggara, "Whoosh".
Langkah ini diambil untuk memperkuat struktur finansial proyek ambisius senilai USD7,3 miliar tersebut pasca-operasi yang dimulai tahun lalu. Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengonfirmasi rampungnya draf restrukturisasi ini pada Selasa (07/04).
Menanti kepastian dari Beijing
Proyek sepanjang 142 kilometer yang menghubungkan Jakarta dan Bandung ini merupakan hasil kerja sama erat antara konsorsium Indonesia dan China. Meskipun rencana restrukturisasi dari sisi Indonesia telah rampung, Dony belum merinci apakah pihak Beijing telah memberikan persetujuan penuh terhadap skema terbaru tersebut.
Pemerintah Indonesia diketahui telah memulai negosiasi ulang utang dengan China sejak tahun lalu. Hal ini menyusul adanya cost overrun atau pembengkakan biaya yang sempat menghambat progres pembangunan sebelum akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Oktober 2023.
"China akan tetap memiliki saham dalam proyek ini setelah restrukturisasi selesai," ujar Dony. Ia menambahkan bahwa detail mengenai skema penyelamatan keuangan ini akan diumumkan secara lebih terperinci dalam dua pekan ke depan.
Menambal lubang pembengkakan biaya
Sejak peletakan batu pertama pada 2016, proyek Whoosh menghadapi berbagai tantangan berat yang memicu lonjakan biaya konstruksi. Beberapa kendala utama meliputi:
Pembebasan lahan: Proses pengadaan tanah di kawasan padat penduduk Jawa Barat yang memakan waktu lama.
Pandemi Covid-19: Penghentian operasional dan kendala logistik selama masa pandemi global.
Geologi: Tantangan teknis pada struktur tanah di jalur Jakarta-Bandung yang memerlukan biaya tambahan untuk penguatan.
Kini, fokus utama pemerintah adalah memastikan keberlanjutan operasional Whoosh tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan di masa depan. Restrukturisasi ini diharapkan dapat meringankan beban arus kas pengelola dan mengoptimalkan kontribusi ekonomi dari kereta yang mampu melaju hingga 350 km/jam tersebut.
Pengumuman detail dalam dua pekan mendatang diprediksi akan menjadi sorotan pasar global, mengingat posisi strategis proyek ini dalam inisiatif pembangunan infrastruktur lintas negara di kawasan Asia Pasifik.











