Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan kontrak awal telah diteken dan kini dalam proses aktivasi.
“Untuk KAAN, sudah ada kontrak awal dalam jumlah terbatas yang saat ini masih dalam proses aktivasi melalui mekanisme pinjaman luar negeri bersama Kementerian Keuangan,” ujar Rico, Kamis (2/4), dikutip dari Antara. Pernyataan ini menegaskan Indonesia telah resmi memasuki tahap kontraktual pengadaan pesawat tempur tersebut.
Rencana awal mencakup pembelian 48 unit pesawat KAAN, dengan pengiriman pertama diperkirakan pada 2032.
Pengadaan akan dilakukan bertahap, menyesuaikan kesiapan anggaran dan kebutuhan TNI. Rincian anggaran resmi belum diumumkan.
Proses ini bagian dari upaya pemerintah memperkuat pertahanan udara Indonesia dan mendukung modernisasi Alat Utama Sistem Senjata (alutsista) TNI Angkatan Udara.
Skema pinjaman luar negeri dipilih untuk memudahkan ketersediaan dana tanpa membebani anggaran tahunan secara langsung.
Informasi tambahan dari akun Instagram pertahanan @isds.indonesia menyebut kontrak pembelian diteken saat Istanbul Defence Expo (IDEF) pada pertengahan 2025.
Nilai kontrak diperkirakan 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp251 triliun. Kesepakatan ini tidak hanya memperkuat kekuatan udara, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan industri pertahanan domestik.
Pengamat menilai kerja sama ini memungkinkan Indonesia memanfaatkan teknologi modern pesawat siluman generasi kelima. Langkah ini juga diharapkan meningkatkan kemampuan produksi lokal dan menyiapkan generasi baru pilot serta teknisi TNI AU yang terampil mengoperasikan teknologi canggih.














