Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan signifikan jumlah titik panas di Indonesia seiring menguatnya fenomena El Niño, yang juga mendorong suhu tinggi dan risiko kesehatan di berbagai wilayah.
Hingga akhir Juli 2026, BMKG mendeteksi lebih dari 5.000 titik panas, dengan laju peningkatan yang disebut lebih cepat dibandingkan periode El Niño sebelumnya pada 2015, 2019, dan 2023. Konsentrasi tertinggi tercatat di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau, di mana kabut asap mulai terpantau dalam beberapa hari terakhir.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan akumulasi titik panas sejak awal tahun menunjukkan tren kenaikan tajam.
“Periode kritis kebakaran hutan dan lahan diperkirakan berlangsung dari Juli hingga September 2026, sehingga pemantauan intensif menjadi sangat penting,” ujarnya.
BMKG memperkirakan risiko kebakaran akan mencapai puncak pada Agustus hingga September, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan, sebelum berangsur menurun pada Oktober seiring potensi peningkatan curah hujan.

Daerah prioritas
Sejumlah daerah prioritas pengawasan meliputi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat dan Tengah, serta Papua Selatan, sementara sebagian wilayah Sulawesi diprediksi mengalami peningkatan risiko pada September hingga Oktober.
Kondisi kering kini meluas, dengan 54,5 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah selatan khatulistiwa—termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua—mengalami periode tanpa hujan yang panjang, bahkan hingga lebih dari 60 hari di sejumlah lokasi.
Selain memicu kebakaran, cuaca kering dan minim tutupan awan juga meningkatkan suhu harian hingga 30–34 derajat Celsius di berbagai wilayah. BMKG mengingatkan bahwa paparan panas berkepanjangan dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan heatstroke, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
“Penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran berhubungan langsung dengan peningkatan infeksi saluran pernapasan akut,” kata Ardhasena.
BMKG mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, termasuk menjaga hidrasi, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari, serta membatasi aktivitas luar ruang saat suhu tinggi.
Di sisi lain, sektor kesehatan diminta bersiap melakukan intervensi dini guna menekan dampak penyakit terkait iklim.
Fenomena El Nino yang sedang berlangsung diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir 2026 hingga awal 2027, dengan potensi intensitas yang melampaui kejadian sebelumnya, sehingga memperpanjang periode risiko kebakaran dan gangguan kesehatan di Indonesia.

















