Kerusakan hutan tropis dunia dilaporkan mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2025.
Laporan terbaru menunjukkan kebijakan pemerintah yang tegas mampu menahan laju kehilangan pohon di tengah tekanan iklim global yang semakin panas.
Dunia tercatat kehilangan sekitar 4,3 juta hektare hutan tropis primer tahun lalu, angka ini turun 36 persen dibandingkan tahun 2024.
Penurunan tajam ini sebagian besar dipicu oleh upaya masif Brasil dalam menekan deforestasi di bawah pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva.
"Ini sangat membesarkan hati. Ternyata ada intervensi nyata yang berhasil dan kita bisa melihatnya dalam data," ujar Elizabeth Goldman, direktur di Global Forest Watch.
Laporan ini disusun oleh World Resources Institute (WRI) bersama University of Maryland.
Dilema swasembada pangan dan risiko emisi
Ekspansi sektor pertanian tetap menjadi pendorong utama hilangnya hutan di seluruh dunia, terutama pada komoditas besar di Brasil, Bolivia, dan Indonesia.
Kebijakan jangka panjang di Malaysia dan Indonesia sebenarnya berhasil membatasi kehilangan hutan primer yang secara historis tertekan oleh perkebunan kelapa sawit. Namun, laporan tersebut memberikan catatan khusus bagi situasi domestik terbaru di tanah air.
Dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas program lumbung pangan (food estate) dilaporkan berkontribusi pada peningkatan angka deforestasi di Indonesia tahun lalu.
Kelompok lingkungan memperingatkan bahwa ambisi ketahanan pangan ini berisiko mengorbankan ekosistem hutan yang masih tersisa.
Hutan berada di titik kritis
Di luar wilayah tropis, kehilangan hutan global turun 14 persen tahun lalu, namun bukti tekanan perubahan iklim terhadap pepohonan semakin nyata.
Fenomena ini paling terlihat di Kanada, yang mengalami musim kebakaran hutan terburuk kedua sepanjang sejarah pada tahun lalu.
Rod Taylor, Direktur Global WRI untuk Sektor Hutan, menjelaskan bahwa kebakaran dan kekeringan kini mulai mengubah hutan menjadi sumber emisi gas rumah kaca.
"Kita berada di titik kritis," tambah Taylor.
Ia menekankan bahwa kemampuan hutan dalam memperlambat perubahan iklim kini sedang dipertaruhkan oleh suhu bumi yang terus meroket.










