Tekanan biaya energi dan ketidakpastian global akibat konflik Iran mulai memperlambat kinerja manufaktur di berbagai negara Asia pada Maret, yang secara bertahap memberi tekanan pada aktivitas industri dan prospek ekonomi kawasan.
Survei bisnis terbaru memperlihatkan pelemahan terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia, Vietnam, Taiwan, dan Filipina. Kondisi ini mencerminkan dampak langsung konflik di Timur Tengah terhadap sektor industri, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar dan gangguan rantai pasok.
Menurut laporan Reuters, di Asia Tenggara, PMI Indonesia turun ke 50,1 dari 53,8, sementara Vietnam melambat ke 51,2 dari 54,3. Data ini menunjukkan momentum pertumbuhan industri mulai kehilangan tenaga akibat tekanan biaya yang meningkat.
Sektor manufaktur China masih mencatat ekspansi untuk bulan keempat berturut-turut. Namun, tekanan inflasi dan hambatan pasokan semakin meningkat. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur umum turun menjadi 50,8 pada Maret dari 52,1 pada Februari.
Sementara itu, Jepang juga mengalami tekanan. Aktivitas pabrik melemah akibat memburuknya sentimen bisnis dan kenaikan biaya produksi yang mencapai titik tertinggi dalam 19 bulan, didorong oleh mahalnya energi dan bahan baku, serta pelemahan yen dan kekurangan tenaga kerja.
Aktivitas manufaktur Korea Selatan mencatat pertumbuhan tercepat dalam lebih dari empat tahun, didorong oleh kuatnya permintaan semikonduktor dan peluncuran produk baru.
Pasar global terguncang setelah konflik Iran membatasi jalur Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima aliran minyak dan gas dunia. Memicu lonjakan harga energi dan inflasi, sementara permintaan dolar AS menekan mata uang Asia dan bank sentral berupaya menjaga stabilitas ekonomi.











