Gubernur Jakarta Pramono Wibowo menawarkan peluang investasi kepada Singapura untuk mendukung pengembangan proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase 3 dan fase 4.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Singapura pada Senin (15/6), Pramono juga membuka peluang masuknya modal dari negara tersebut untuk proyek pengembangan berbasis transportasi atau transit-oriented development (TOD) serta berbagai inisiatif perkotaan yang mendukung visi Jakarta sebagai kota global.
Dalam keterangannya pada Selasa (16/6), Pramono mengatakan investasi di Jakarta berarti membuka akses ke salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara.
“Investasi yang masuk ke Jakarta akan berkontribusi terhadap pertumbuhan Indonesia, memperkuat perekonomian ASEAN, dan menciptakan nilai tambah bagi mitra regional, termasuk Singapura,” kata Pramono, dikutip dari Antara.
Pramono menegaskan Pemerintah Provinsi Jakarta berkomitmen menciptakan iklim investasi yang lebih mudah diakses, transparan, efisien, dan konsisten. Menurutnya, penerapan kebijakan pendukung yang jelas diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan investor.
“Kami ingin pelaku usaha Singapura mengetahui bahwa Jakarta berkomitmen mempermudah investasi melalui regulasi yang jelas, proses yang efisien, dan kebijakan yang konsisten. Saya percaya kepercayaan dan kolaborasi yang dibangun saat ini akan menghasilkan keberhasilan bersama,” ujarnya.
Ia juga meyakinkan pemerintah Singapura mengenai kredibilitas Jakarta dalam menjalin kerja sama dengan para mitra strategis. Pramono menyebut pengalamannya sebagai Sekretaris Kabinet selama dua periode dan saat ini sebagai Gubernur Jakarta membantunya menjembatani kebijakan nasional dengan implementasi di tingkat daerah.
“Pengalaman saya sebagai Sekretaris Kabinet selama dua periode dan kini sebagai Gubernur Jakarta memungkinkan saya menjembatani kebijakan nasional dan pelaksanaannya di tingkat daerah. Hal ini penting untuk memberikan kepastian dan membangun kepercayaan investor,” kata Pramono.
Pertemuan di Singapura tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan personal dan kelembagaan antara Pramono dan Lawrence Wong, melanjutkan hubungan yang telah terjalin ketika keduanya masih menduduki posisi di pemerintahan masing-masing.

















