Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, mengatakan komunikasi dan proses kerja sama dengan Rusia masih terus berlangsung.
“Prosesnya masih berjalan. Kemarin Wakil Menteri baru kembali dari sana (Rusia). Jadi prosesnya terus berlanjut,” kata Laode di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (17/5), dikutip Antara.
Menurut dia, langkah tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia. Ia juga menyinggung posisi Indonesia sebagai anggota BRICS yang beranggotakan Brazil, Russia, India, China, dan South Africa.
“Intinya, sebagai negara kita menjalankan politik bebas aktif. Apalagi kita juga anggota BRICS,” ujarnya.
Pemerintah sebelumnya menyatakan impor minyak Rusia dilakukan untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Minyak mentah dari Rusia disebut akan segera masuk ke Indonesia dalam waktu dekat.
Rencana tersebut merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk mengimpor hingga 150 juta barel minyak dari Rusia secara bertahap hingga akhir 2026.
Pemerintah juga menegaskan prioritas saat ini adalah memastikan ketersediaan bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga dan industri dalam negeri tetap terjaga.
Sebelumnya, Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 14 April mengumumkan penghentian pengecualian sanksi terkait minyak Iran. Kemudian pada 17 April, AS menerbitkan lisensi umum yang masih mengizinkan penjualan minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal hingga 16 Mei 2026.
Dengan berakhirnya lisensi tersebut, pelonggaran sanksi AS terhadap penjualan minyak Rusia resmi berakhir pada 16 Mei lalu.

















