BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Bank Indonesia catat pertumbuhan utang luar negeri melambat di awal 2026
Bank Indonesia menambahkan bahwa utang luar negeri akan terus dioptimalkan sebagai instrumen pembiayaan pembangunan dan pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Bank Indonesia catat pertumbuhan utang luar negeri melambat di awal 2026
Perlambatan ini dipengaruhi oleh dinamika pada utang luar negeri pemerintah dan swasta. / Arsip Reuters

Indonesia mencatat perlambatan laju pertumbuhan utang luar negeri (ULN) pada awal 2026, di tengah penurunan kontribusi sektor swasta dan moderasi ekspansi pada sektor publik. Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi utang luar negeri Indonesia pada triwulan I 2026 berada di level $433,4 miliar. Secara tahunan, pertumbuhannya hanya 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan laju 1,9 persen pada periode triwulan IV 2025.

Perlambatan ini dipengaruhi oleh dinamika pada utang luar negeri pemerintah dan swasta. Meski masih tumbuh, utang luar negeri sektor publik menunjukkan akselerasi yang lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya.

Utang luar negeri pemerintah tercatat sebesar $214,7 miliar dengan pertumbuhan 3,8 persen (year-on-year), melambat dari 5,5 persen pada triwulan sebelumnya. Menurut Bank Indonesia, kondisi ini terutama berkaitan dengan arus modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, seiring masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Sebagai bagian dari pembiayaan APBN, pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati, terukur, dan bertanggung jawab, dengan fokus pada dukungan terhadap program prioritas serta momentum pertumbuhan ekonomi.

TerkaitTRT Indonesia - Utang Indonesia nyaris Rp10.000 triliun, Menkeu: kondisi fiskal masih aman

Penyusutan utang luar negeri swasta

Dari sisi alokasi, ULN pemerintah banyak diarahkan ke sektor-sektor utama, antara lain Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,1 persen, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 20,2 persen, Jasa Pendidikan 16,2 persen, Konstruksi 11,5 persen, serta Transportasi dan Pergudangan 8,5 persen. Hampir seluruhnya berbentuk jangka panjang dengan porsi 99,99 persen.

Sementara itu, utang luar negeri swasta mengalami penyusutan. Nilainya turun menjadi $191,4 miliar dari sebelumnya $194,2 miliar, atau terkontraksi 1,8 persen secara tahunan. Penurunan terutama terjadi pada lembaga keuangan (financial corporations) yang menyusut 3,6 persen, serta perusahaan non-keuangan yang turun 1,3 persen.

Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia masih berada dalam kondisi sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,5 persen dari sebelumnya 30,0 persen pada triwulan IV 2025, mencerminkan pengelolaan risiko yang lebih terkendali.

Bank Indonesia menambahkan bahwa utang luar negeri akan terus dioptimalkan sebagai instrumen pembiayaan pembangunan dan pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dengan tetap menjaga stabilitas makro ekonomi melalui pengendalian risiko yang terukur.

TerkaitTRT Indonesia - BI tahan suku bunga 4,75 persen, jaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi
SUMBER:TRT Indonesia