Pada suatu pagi musim semi di Istanbul, pejabat pemerintah, insinyur, dan wali kota dari 39 distrik berkumpul di balik pintu tertutup di kantor gubernur. Suasana tegang namun fokus menyelimuti ruangan—wajar, mengingat kota ini hidup dalam bayang-bayang gempa besar yang, menurut para ahli, hanya tinggal menunggu waktu.
Memimpin pertemuan itu, Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Murat Kurum berbicara lugas. “Istanbul adalah jantung Turkiye,” ujarnya. “Jika kota ini runtuh, luka yang diderita bangsa bisa jadi tak akan pernah sembuh.”
Pertemuan ini menjadi penanda dari keseriusan upaya Turkiye untuk membayangkan kembali masa depan Istanbul—metropolis berpenduduk hampir 20 juta orang yang berada di salah satu jalur patahan paling berbahaya di dunia. Diperkirakan, sekitar 600.000 bangunan tempat tinggal di kota ini harus segera direvitalisasi.
Bagi warga Istanbul, angka itu bukan sekadar data. Itu adalah rumah tempat anak-anak mereka tumbuh, fondasi bisnis kecil, dan kafe tempat kehidupan berlangsung di bawah beton yang kian renta.
"Kamu tak akan pernah lupa suara itu"
Kenan Kansiz masih ingat betul gempa besar 1999. “Kamu tak akan pernah lupa suara itu,” ujar pemilik usaha kecil berusia 58 tahun itu, suaranya pelan namun tegas.
Ia berada di Istanbul saat gempa Golcuk mengguncang dan menewaskan lebih dari 17.000 orang. “Kami pikir itu yang terburuk,” katanya. “Lalu datanglah 6 Februari.”
Ia merujuk pada gempa kembar yang melanda tenggara Turkiye pada 2023, menewaskan lebih dari 50.000 jiwa dan meratakan banyak lingkungan.
“Jika hal seperti itu terjadi di Istanbul,” tambahnya, “dampaknya akan jauh lebih buruk. Terlalu padat, terlalu banyak bangunan tua. Kita harus membangun ulang—sekarang.”
Kota dalam kegelisahan
Tak lama setelah bencana 6 Februari, gempa bermagnitudo 6,2 mengguncang Istanbul. Meski tidak menimbulkan kerusakan besar, guncangan itu membangkitkan kembali ketakutan lama dan mendorong respons cepat dari warga serta pemerintah.
“Saya langsung membawa anak-anak keluar rumah tanpa alas kaki,” kenang Neslihan Akyuz, ibu tiga anak berusia 39 tahun yang tinggal di distrik padat. “Jalanan penuh orang yang menangis, berdoa. Saya khawatir setiap hari—bukan hanya untuk keluarga saya, tapi untuk seluruh kota.”
Ia menyoroti kepadatan, kemacetan, dan infrastruktur yang rapuh. “Gempa besar bukan cuma soal bangunan roboh. Itu bisa melumpuhkan seluruh kota. Kita butuh struktur kuat dan rencana matang—sebelum semuanya terlambat.”
Pelajaran pahit, awal baru
Pertemuan Evaluasi Transformasi Gempa minggu ini menggambarkan keseriusan langkah pemerintah. Wakil menteri, perwakilan TOKİ (badan perumahan negara), serta pejabat kota duduk bersama—sebuah pemandangan langka di negara yang kerap terpolarisasi soal tata kota.
Rencana besar mencakup penggantian bangunan rawan, penambahan ruang terbuka untuk evakuasi, hingga percepatan izin konstruksi. Koordinasi antara lembaga pusat dan daerah disebut sebagai kunci sukses—bersama kepercayaan publik.
“Kita tak sekadar bicara soal beton dan baja,” ujar Kurum. “Ini soal menjaga sejarah, mata pencaharian, dan jiwa kota ini.”
Waktu terus berjalan
Para seismolog telah lama memperingatkan: Istanbul tinggal menunggu giliran. Patahan Anatolia Utara—tepat di selatan kota—telah memicu serangkaian gempa mematikan selama lebih dari satu abad. Secara statistik, Istanbul adalah target berikutnya.
Kesadaran akan hal itu membebani warga. Namun, justru dari rasa genting itu muncul tindakan.
“Orang-orang mulai paham bahwa ini bukan lagi teori,” kata Kansiz. “Kami telah menyaksikan horor itu, menghirup debunya, dan mengubur orang-orang yang kami cintai. Sekarang saatnya bersiap—secara nyata.”
Karena di Istanbul, meski tanah mungkin tampak tenang hari ini, semua orang tahu: itu takkan bertahan selamanya.
















