Empat orang tewas di kota perbatasan Cucuta, Kolombia, di tengah gelombang kekerasan yang meningkat hanya beberapa minggu sebelum pemilihan presiden di negara Amerika Selatan tersebut.
“Dengan sangat menyesal kami mengonfirmasi kematian empat orang,” ujar Letnan Kolonel Ricardo Conde dari kepolisian setempat dalam pernyataan video pada Minggu.
Serangan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat ketika dua pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor melepaskan tembakan ke arah sekelompok orang yang tengah berkumpul di sebuah tempat usaha.
Salah satu korban diidentifikasi sebagai William Lopez, ketua dewan lingkungan di kota tersebut yang berada di perbatasan dengan Venezuela.
Polisi hingga kini belum berhasil menemukan para pelaku.
Dengan populasi sekitar 800.000 jiwa dan menjadi jalur utama penghubung antara Kolombia dan Venezuela, Cucuta dilaporkan mengalami empat serangan mematikan dalam dua pekan terakhir, menurut media lokal.
Lonjakan serangan mematikan
Serangan mematikan terus meningkat di seluruh Kolombia dalam beberapa pekan terakhir, seiring negara itu menghadapi salah satu krisis keamanan terburuk dalam satu dekade.
Akhir pekan lalu, sebuah bom di jalan raya yang diklaim oleh kelompok bersenjata menewaskan 21 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya di wilayah Cauca, barat daya Kolombia—menjadi serangan paling mematikan terhadap warga sipil sejak 2003.
Pemilu untuk menentukan presiden berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei, dengan isu keamanan menjadi sorotan utama dalam kampanye.
Kandidat terdepan dalam survei adalah Ivan Cepeda dari partai kiri yang berkuasa, namun belum memiliki dukungan cukup untuk menghindari putaran kedua pada 21 Juni.
Belum jelas apakah ia mampu menang dalam pertarungan langsung melawan kandidat-kandidat dari kubu kanan.
Presiden saat ini, Gustavo Petro—pemimpin kiri pertama Kolombia—secara konstitusional tidak dapat mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan kedua berturut-turut.













