Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Raja Charles III “sependapat dengannya” bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sambil kembali menegaskan klaim bahwa negaranya telah mengalahkan Iran secara militer.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih untuk menyambut kunjungan Raja Charles III pada Selasa, yang merupakan hari kedua dari rangkaian kunjungan empat hari sang raja ke Amerika Serikat.
“Kami sedang melakukan sedikit pekerjaan di Timur Tengah saat ini, dan kami melakukannya dengan sangat baik,” ujar Trump dalam acara tersebut.
“Kami telah mengalahkan lawan tertentu itu secara militer, dan kami tidak akan pernah membiarkan lawan itu—Charles sependapat dengan saya bahkan lebih dari saya sendiri—kami tidak akan pernah membiarkan mereka memiliki senjata nuklir.”
Dalam pernyataannya setelah Trump, Raja Charles tidak menyinggung Iran maupun konflik yang dimaksud. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan Amerika Serikat untuk Ukraina dalam perang melawan Rusia, serta bahaya dari sikap isolasionisme.
Baik Inggris maupun Amerika Serikat selama bertahun-tahun memang menyatakan bahwa Teheran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah memiliki ambisi tersebut dan menyebut program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk pengayaan uranium, sebagai bagian dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir.
AS dan Israel sebelumnya melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah kepentingan Amerika Serikat di kawasan, terutama di negara-negara Teluk.
Gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, disusul perundingan di Islamabad pada 11–12 April. Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata diperpanjang atas permintaan Pakistan sambil menunggu usulan dari pihak Teheran.









