Pemerintah Indonesia mengecam tindakan intersepsi yang dilakukan pasukan Israel terhadap armada bantuan kemanusiaan Global Sumud yang sedang menuju Jalur Gaza. Jakarta menegaskan dukungannya terhadap misi kemanusiaan tersebut dan menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl, mengatakan Indonesia memantau secara seksama laporan mengenai penyerangan terhadap armada tersebut.
"Indonesia mengikuti secara dekat laporan serangan Israel terhadap Global Sumud Flotilla. Kami mengutuk intersepsi terhadap misi kemanusiaan tersebut di perairan internasional," ujar Vahd kepada Anadolu, Sabtu (2/05).
Menurutnya, Indonesia kembali menekankan pentingnya seluruh negara untuk menjunjung kebebasan navigasi di perairan internasional sebagaimana diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia juga menegaskan kewajiban untuk menjamin keselamatan misi kemanusiaan sesuai hukum humaniter internasional.
Armada bantuan Global Sumud dilaporkan diserang pada Kamis di dekat wilayah perairan sekitar Pulau Yunani, sekitar 600 mil laut dari tujuan akhirnya di Gaza yang hingga kini masih berada di bawah blokade ketat.
Kementerian Luar Negeri Israel sebelumnya menyatakan sebanyak 175 aktivis ditahan setelah lebih dari 20 kapal yang menuju Gaza dicegat di perairan internasional. Namun, pihak penyelenggara menyebut sebagian besar peserta yang sempat ditahan telah dibebaskan di Pulau Kreta, Yunani.
Meski demikian, dua orang yang diidentifikasi sebagai Thiago dan Saif dilaporkan masih berada dalam tahanan.
Pada Jumat malam, sebuah penerbangan Turkish Airlines yang membawa 59 aktivis dari berbagai negara, termasuk 20 warga negara Türkiye, mendarat di Bandara Istanbul setelah diberangkatkan dari Kreta.
Misi Global Sumud dimulai ketika kapal-kapal pertama yang membawa bantuan kemanusiaan berangkat dari Barcelona pada 12 April. Armada utama kemudian bertolak dari Pulau Sisilia, Italia, pada 26 April dengan tujuan menembus blokade Israel yang telah berlangsung bertahun-tahun atas Gaza.
Israel memberlakukan blokade ketat terhadap Jalur Gaza sejak 2007, yang membuat sekitar 2,4 juta penduduk wilayah itu menghadapi krisis kemanusiaan serius dan ancaman kelaparan.
Sejak melancarkan ofensif militer besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, melukai lebih dari 172.000 lainnya, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur di wilayah kantong Palestina tersebut.















