Harga nikel menguat pada perdagangan Selasa seiring meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan dari Indonesia, setelah muncul laporan terkait pengurangan produksi di kawasan industri Weda Bay.
Di pasar berjangka, nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,47 persen ke level 18.840 dolar per ton pada pukul 07.33 GMT. Sementara itu, kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange bertambah 2,06 persen menjadi 144.990 yuan atau sekitar 21.313 dolar per ton pada penutupan sesi siang.
Sentimen pasar dipicu laporan Reuters yang menyebut Tsingshan Group perusahaan China meminta sejumlah produsen nickel pig iron (NPI) di Weda Bay untuk menurunkan output. Langkah ini dikaitkan dengan upaya pengalihan penggunaan listrik untuk mendukung produksi aluminium yang tengah diperluas.
Perusahaan tersebut mengoperasikan fasilitas NPI dan smelter aluminium di kawasan industri yang sama, dengan sistem energi berbasis pembangkit listrik captive. Kondisi ini membuat alokasi daya menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat produksi masing-masing komoditas.
Di sisi lain, pasokan nikel juga disebut menghadapi tekanan tambahan akibat pengetatan kuota tambang di Indonesia. Salah satu operator tambang di Weda Bay, Eramet, dilaporkan mempertimbangkan penghentian sementara produksi sambil menunggu kepastian izin produksi tambahan.
Sementara itu, pasar aluminium menunjukkan tren penguatan di tengah ekspektasi ketatnya pasokan global. Di pasar logam lainnya, pergerakan harga cenderung bervariasi. Aluminium di LME naik tipis, sementara kontrak di Shanghai juga menguat. Komoditas logam dasar lain seperti tembaga, seng, timbal, dan timah bergerak campuran di bursa global.
















