Pemerintah Indonesia menegaskan ketersediaan energi domestik tetap terjaga meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran global. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa kondisi pasokan, khususnya bahan bakar minyak (BBM), masih stabil dan terkendali.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat meninjau sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (26/3).
Ia menekankan bahwa Indonesia belum berdampak signifikan, bahkan ketika sejumlah negara Asia mulai menghadapi tekanan serius terhadap cadangan energi mereka.
Krisis energi regional dipicu oleh terganggunya jalur vital Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dibalas oleh Teheran.
Sebelum eskalasi tersebut, sekitar 20% distribusi minyak global dan perdagangan gas alam cair (LNG) dunia melewati selat ini—sebagian besar menuju negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Sejak konflik meningkat, lalu lintas kapal di Selat Hormuz nyaris terhenti, memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.
Filipina menjadi negara pertama yang menetapkan “darurat energi nasional” dengan cadangan BBM diperkirakan hanya cukup untuk 45 hari.
Di tempat lain, Taiwan melaporkan stok LNG strategisnya hanya mampu bertahan sekitar 11 hari. Sementara itu, Bangladesh memperkirakan cadangan bahan bakarnya berada di kisaran 9 hingga 14 hari.
Menghadapi situasi tersebut, sejumlah negara di Asia mulai menerapkan langkah darurat, mulai dari penggunaan energi alternatif hingga pembatasan aktivitas ekonomi dan pendidikan.
Pemerintah Indonesia sendiri tengah mempertimbangkan kebijakan antisipatif, termasuk skema pembelajaran hybrid di sekolah serta penerapan kerja jarak jauh satu hari dalam sepekan.











