Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan seluruh jemaah umrah asal Indonesia yang berada di Arab Saudi dalam kondisi aman, meskipun harus beribadah di tengah memanasnya konflik bersenjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi asal Yaman.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemantauan terkini, ada puluhan ribu jemaah yang saat ini berada di Tanah Suci.
"Saat ini di Arab Saudi terdapat 49.000 jemaah umrah, dan semuanya dalam keadaan aman," kata Heni dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (22/10).
Heni mengakui bahwa serangan yang dilancarkan kelompok Houthi ke sejumlah bandara di Arab Saudi sempat mengganggu jadwal operasional penerbangan, terutama di wilayah Riyadh.
Meski begitu, ia memastikan aktivitas penerbangan di dua pintu utama jemaah umrah, yakni Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah dan Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz Madinah, tetap beroperasi relatif normal. Tingkat pembatalan penerbangan di kedua bandara tersebut tercatat sebesar 7 persen, sedangkan tingkat penundaan (delay) berada di angka 11 percent.
Guna mengantisipasi dampak gangguan penerbangan, personel Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah disiagakan selama 24 jam penuh di bandara. Langkah ini dilakukan untuk memantau kelancaran layanan sekaligus memberikan bantuan cepat bagi jemaah Indonesia yang terdampak.
Selain jemaah umrah, Kemlu RI juga memastikan kondisi warga negara Indonesia (WNI) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bermukim di Arab Saudi dalam keadaan aman.
Eskalasi militer di kawasan tersebut kembali memanas sejak pertengahan Juli 2026 setelah sempat mereda selama empat tahun. Situasi memburuk usai kelompok Houthi menyerang kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah sebagai balasan atas serangan militer Yaman terhadap bandara di Sanaa.
Mengutip laporan kantor berita Sputnik, serangkaian serangan kelompok Houthi telah menyasar sejumlah infrastruktur penerbangan vital di Arab Saudi. Serangan di Bandara Internasional King Khalid Riyadh pada 10 dan 11 Oktober merenggut 13 korban jiwa dan melukai ratusan orang. Sementara itu, serangan drone ke Bandara Internasional King Fahd di Dammam pada Rabu (21/10) mengakibatkan dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.




















