BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Bank Indonesia tahan suku bunga acuan di level 5,75 persen di tengah gejolak pasar
Bank Indonesia resmi mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam RDG Oktober 2026. Langkah ini ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengawal pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan pasar modal.
Bank Indonesia tahan suku bunga acuan di level 5,75 persen di tengah gejolak pasar
Gubernur Bank Sentral Indonesia mengadakan konferensi pers di Jakarta. Foto: Reuters

Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 5,75 persen. Keputusan tersebut diumumkan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dipercepat jadwalnya di Jakarta, Rabu (21/10).

Selain menahan BI-Rate, bank sentral juga mempertahankan suku bunga Lending Facility pada posisi 6,50 persen, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen.

Keputusan ini diambil di tengah situasi pasar keuangan yang bergejolak. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah tertekan hebat setelah lembaga penyedia indeks global, MSCI, mengeluarkan peringatan bahwa mereka dapat memindahkan ekuitas Indonesia ke status pasar mandiri (standalone market). Ancaman tersebut memicu aksi jual masif di Bursa Efek Indonesia, mencatatkan penurunan dua sesi beruntun yang bahkan lebih tajam dibanding masa krisis keuangan Asia 1998.

Sejak awal tahun, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia berkembang setelah merosot lebih dari 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan eksternal ini diperparah oleh kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal negara, terutama akibat rencana belanja populis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta beban subsidi energi yang menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebelum pengumuman resmi ini, konsensus analis yang disurvei Reuters sempat terbelah tipis. Sebanyak 15 dari 29 ekonom memproyeksikan BI akan menahan suku bunga, sementara sebagian lainnya memperkirakan kenaikan 25 hingga 50 basis poin demi membendung pelarian modal (capital outflow) dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Kendati dihadapkan pada prioritas kebijakan yang saling tumpang tindih antara menjaga daya beli domestik dan meredam tekanan nilai tukar, Bank Indonesia menilai langkah mempertahankan suku bunga saat ini sudah konsisten untuk menjaga stabilitas makroekonomi tanpa mematikan momentum pertumbuhan domestik.

TerkaitTRT Indonesia - Konsensus tipis ekonom perkirakan Bank Indonesia tahan suku bunga acuan di tengah gejolak pasar
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi