Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu krisis kabut asap lintas batas diperkirakan telah menghanguskan lebih dari 1,9 juta hektar lahan di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut terungkap berdasarkan analisis data satelit terbaru dari pemantau independen Nusantara Atlas, Senin (19/10).
Sektor luas lahan yang terbakar tersebut naik sekitar 38 persen dibandingkan periode yang sama pada krisis karhutla tahun 2019. Kondisi ini diperparah oleh cuaca kering akibat fenomena El Nino yang melanda sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, hingga Jawa.
Pendiri Nusantara Atlas, David Gaveau, menjelaskan bahwa total luas area yang terbakar kemungkinan bisa lebih tinggi dari 1.916.588 hektar yang terdeteksi, mengingat pekatnya tutupan kabut asap sempat mengganggu pencitraan satelit.
Menanggapi data tersebut, Juru Bicara Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyatakan bahwa pihak pemerintah saat ini masih melakukan verifikasi dan penghitungan resmi di lapangan.
Terima Bantuan Negara Tetangga
Di tengah tingginya eskalasi karhutla, Pemerintah Indonesia akhirnya menyetujui penawaran bantuan dari negara tetangga, Malaysia dan Singapura, untuk mempercepat pemadaman titik api yang dampaknya telah dirasakan hingga ke mancanegara.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Dudung Abdurachman, mengonfirmasi masuknya dukungan alutsista dan personel dari Malaysia.
"Kami sudah merespons proposal bantuan tersebut... mereka (Malaysia) akan membantu dengan tiga armada pesawat dan 52 personel," kata Dudung kepada wartawan di Jakarta, Senin (19/10).
Dudung menambahkan, Singapura juga dijadwalkan memberikan dukungan teknis serupa. Langkah ini melengkapi upaya domestik setelah Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengerahan sumber daya secara masif. Saat ini, sebanyak 47 armada udara dan lebih dari 60.000 personel gabungan telah diterjunkan di berbagai titik prioritas.

Dampak Lintas Negara dan Korban Jiwa
Sebaran kabut asap akibat karhutla tahun ini telah memicu penutupan sekolah di Malaysia hingga Timor Leste, serta menurunkan kualitas udara di Singapura dan Filipina. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) mencatat durasi penurunan kualitas udara pada level tidak sehat tahun ini telah melampaui rekor krisis asap tahun 2015.
Di dalam negeri, penanganan di lapangan terus menelan korban jiwa. Seorang relawan pemadam kebakaran dilaporkan meninggal dunia saat berjuang memadamkan api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Mendiang menjadi korban kelima dari tim relawan yang terjebak kobaran api sejak pekan lalu.
Gelombang protes atas penanganan bencana ini juga bermunculan di daerah terdampak. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, ratusan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa menuntut penanganan yang lebih cepat dan tegas dari pemerintah pusat maupun daerah atas krisis lingkungan yang memicu gangguan kesehatan massal tersebut.
















