Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengapresiasi kontribusi Indonesia dalam operasi pemeliharaan perdamaian dunia, dengan hampir 2.000 personel militer Indonesia saat ini bertugas di tujuh misi PBB.
Dalam kunjungannya ke Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP TNI) di Sentul, Jawa Barat, Senin, Guterres menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian atau Blue Helmets berperan penting dalam melindungi warga sipil, meredakan konflik, mengawasi penyaluran bantuan kemanusiaan, serta membuka jalan bagi penyelesaian politik.
“Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap operasi penjaga perdamaian PBB selama bertahun-tahun,” kata Guterres.
Indonesia saat ini tercatat sebagai negara penyumbang personel terbesar keenam bagi misi penjaga perdamaian PBB.

Faktor penentu stabilitas Afrika Tengah
Guterres secara khusus menyoroti misi Indonesia di Republik Afrika Tengah, yang menurutnya dapat menjadi faktor penentu bagi stabilitas negara tersebut. Pasukan Indonesia diharapkan membantu memperkuat fungsi lembaga negara di seluruh wilayah serta mendorong kelompok-kelompok bersenjata yang tersisa untuk bergabung dalam proses perdamaian.
Meski upaya perdamaian menunjukkan kemajuan, kelompok bersenjata masih beroperasi di negara yang termasuk salah satu termiskin di dunia itu. Guterres berharap keberhasilan pasukan Indonesia, bersama personel Portugal yang telah lebih dahulu bertugas, dapat membuka peluang bagi PBB untuk secara bertahap mengurangi skala misinya di negara tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Guterres memberikan penghormatan kepada empat personel penjaga perdamaian Indonesia yang baru-baru ini gugur di Lebanon dengan meletakkan karangan bunga di PMPP TNI.
“Pelanggaran semacam ini harus dipertanggungjawabkan,” ujarnya, sembari mendesak negara-negara anggota PBB memenuhi kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan personel organisasi tersebut.
Guterres melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada 17–19 Oktober, Pada Minggu (18/10), dia bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membahas penguatan kerja sama Indonesia dan PBB dalam sistem multilateral.























