Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk menerima bantuan dari negara-negara tetangga guna menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian memburuk di tanah air.
Langkah ini diambil setelah kabut asap pekat akibat karhutla tidak hanya melanda wilayah Indonesia, tetapi juga membumbung hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Timor Leste, yang bahkan memaksa penutupan sejumlah sekolah di sana.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengonfirmasi bahwa izin dari kepala negara sudah diberikan dan kini tengah ditindaklanjuti secara teknis oleh otoritas terkait.
"Presiden sudah menyatakan persetujuannya, dan masalah ini sedang dibahas di tingkat teknis di internal BNPB," ujar Arrmanatha melalui rekaman suara yang dibagikan Kementerian Luar Negeri pada Jumat (16/10).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru saja dipimpin oleh kepala baru per Kamis kemarin menyatakan tengah mengkaji bentuk bantuan yang ditawarkan oleh negara-negara sahabat untuk mempercepat proses pemadaman di lapangan.
Bulan lalu, Malaysia telah menawarkan penyiapan tiga unit helikopter, satu pesawat udara, serta 52 personel pemadam kebakaran. Selain Malaysia, Singapura yang juga terdampak parah oleh sebaran asap menyatakan kesiapannya untuk menerjunkan bantuan.
Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi wilayah terdampak paling parah. Karakteristik lahan gambut yang luas di kedua wilayah tersebut membuat titik api kerap bertahan dan menyala di bawah permukaan tanah, sehingga sangat sulit dipadamkan secara total.
Dampak karhutla tahun ini juga memakan korban jiwa. Kementerian Kehutanan mengonfirmasi bahwa empat orang petugas pemadam gugur dan dua lainnya mengalami luka bakar serius saat berjuang memadamkan api yang merambat hingga ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.
Penanganan karhutla kini menjadi prioritas mendesak pemerintah guna menekan dampak kesehatan masyarakat serta menjaga hubungan diplomatik dan lingkungan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.


















