Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memerintahkan pengerahan sumber daya dan armada tambahan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin masif di berbagai wilayah tanah air. Langkah tegas ini diambil di tengah meningkatnya sorotan publik dalam negeri dan tekanan dari negara-negara tetangga akibat paparan kabut asap lintas batas (transboundary haze).
Dalam rapat terbatas bersama jajaran menteri dan lembaga terkait, Presiden Prabowo menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk memperkuat operasi pemadaman di lapangan.
"Ini adalah prioritas utama kita. Kita harus segera menyelesaikannya," tegas Presiden Prabowo sebagaimana dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah, Selasa (13/10).
Sebagai langkah konkret di lapangan, Presiden Prabowo memerintahkan pengiriman 200 unit pompa air serta pengeboran 200 titik air di Kalimantan Tengah untuk mempercepat penanganan karhutla, termasuk di area konservasi penting seperti Taman Nasional Tanjung Puting.
Musim karhutla tahun ini menjadi yang terparah dalam 11 tahun terakhir akibat dampak fenomena El Niño yang sangat kuat. Bencana ini memicu lonjakan drastis kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di beberapa wilayah Indonesia, sekaligus memperburuk kualitas udara di Singapura dan Malaysia hingga memaksa penutupan sekolah di sejumlah negara bagian tetangga.
Data dari Fire Emissions Watch milik layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, mencatat bahwa emisi karbon dari karhutla di Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia dalam sebulan terakhir. Bahkan, emisi dari Indonesia menyumbang hampir separuh dari total emisi kebakaran global selama sepekan terakhir.
Meskipun Malaysia dan Singapura telah secara resmi menawarkan bantuan penanganan pemadaman, Pemerintah Indonesia sejauh ini belum berencana menerima bantuan asing maupun menetapkan status bencana nasional.
"Kita masih mampu menangani hal ini secara mandiri," ujar Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, kepada awak media, dilansir Reuters.
Tekanan Regional dan Lonjakan Kasus Kesehatan
Dampak karhutla yang kian memprihatinkan ini menempatkan Jakarta di bawah tekanan diplomatik kawasan. Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bahkan dijadwalkan akan membahas isu kabut asap lintas batas ini dalam pertemuan para menteri luar negeri bulan depan.
Di dalam negeri, krisis kesehatan terus memburuk. Data Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus ISPA yang berkorelasi dengan karhutla di tujuh provinsi terdampak melonjak tajam hingga mencapai 277.075 kasus per 12 Oktober 2026, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 113.336 kasus pada awal September lalu.
Terkait dengan luas wilayah yang terbakar, Kementerian Kehutanan masih melakukan verifikasi data terbaru di lapangan. Namun, lembaga swadaya masyarakat lingkungan hidup Auriga memperkirakan lebih dari 637.000 hektare lahan telah hangus sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini—luasan yang setara dengan sembilan kali luas wilayah Singapura. Sementara itu, pantauan Nusantara Atlas mencatat angka kebakaran lahan yang lebih tinggi, yakni mendekati 900.000 hektare.



















