Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami lima kali erupsi dalam rentang sekitar 90 menit pada Senin (12/10) malam. Letusan tertinggi menghasilkan kolom abu hingga 1.000 meter di atas puncak, sementara sebaran abu vulkanik terpantau mengarah ke wilayah Malang dan Blitar pada Selasa (13/10) pagi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengatakan rangkaian erupsi berlangsung mulai pukul 18.35 hingga 20.08 WIB. Ketinggian kolom letusan bervariasi antara 600 hingga 1.000 meter di atas puncak, dengan abu berwarna putih hingga kelabu dan intensitas sedang.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 18.35 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 700 meter yang bergerak ke barat daya. Letusan kedua tercatat enam menit kemudian, pukul 18.41 WIB, dengan ketinggian sekitar 600 meter.
Semeru kembali meletus pada pukul 19.44 WIB dengan kolom abu setinggi 700 meter yang mengarah ke barat. Sebelas menit berikutnya, erupsi keempat menghasilkan kolom setinggi 800 meter. Letusan kelima pada pukul 20.08 WIB menjadi yang tertinggi, dengan abu mencapai 1.000 meter di atas puncak dan bergerak ke arah barat.
Liswanto mengatakan aktivitas vulkanik masih berlangsung ketika laporan pengamatan disusun. Status Gunung Semeru tetap berada pada Level III atau Siaga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9 pada Selasa pukul 07.00 WIB, mendeteksi sebaran abu vulkanik Semeru ke arah barat, mencakup sebagian Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Sementara itu, abu dari Gunung Lewotolo, Gunung Ibu, dan Gunung Dukono tidak terdeteksi dalam pemantauan tersebut.
Masyarakat diminta menjauhi kawasan berbahaya dan mengikuti arahan petugas. Aktivitas dilarang dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena adanya risiko lontaran batu pijar saat erupsi.
Pembatasan juga berlaku di sektor tenggara, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Warga dilarang mendekati area dalam jarak 500 meter dari tepi sungai pada sektor yang berada di luar radius 13 kilometer, mengingat potensi awan panas guguran dan lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer.
Selain lontaran material vulkanik, ancaman lain yang perlu diwaspadai meliputi awan panas guguran, guguran lava, dan banjir lahar. Risiko tersebut terutama mengintai kawasan aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungainya.
Masyarakat diimbau memantau informasi resmi dari BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta pemerintah setempat selama status Siaga masih berlaku.



















