Indonesia dan Belanda menyepakati pemulangan 30.190 unit Koleksi Eugene Dubois, termasuk fosil manusia purba Homo erectus atau yang lebih dikenal dengan nama Manusia Jawa, serta 20 benda budaya bersejarah yang berasal dari masa kolonial.
Kesepakatan tersebut ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Rianne Letschert di Indonesia House Amsterdam pada Jumat (9/10).
Fadli menyebut repatriasi Koleksi Dubois sebagai yang terbesar dalam sejarah Indonesia, baik dari segi jumlah maupun nilai ilmiahnya. Koleksi tersebut dinilai penting bagi penelitian paleoantropologi dan pemahaman tentang posisi Indonesia dalam sejarah evolusi manusia.
“Kesepakatan repatriasi antara Indonesia dengan Belanda ini merupakan penegasan keadilan sejarah, pemulihan kedaulatan budaya, serta pengakuan atas martabat dan identitas budaya bangsa Indonesia,” kata Fadli dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (11/10).

Pemulangan ini melanjutkan tahap pertama pada 17 Desember 2025, ketika empat benda dari Koleksi Dubois, termasuk tempurung kepala, gigi geraham dan tulang paha, serta cangkang kerang bergores, dikembalikan ke Indonesia.
Pada tahap mendatang, sebanyak 29.763 objek dan 427 kerangka leluhur akan dipulangkan dari Naturalis Biodiversity Center di Leiden.
20 benda dari masa kolonial
Kesepakatan kedua mencakup 20 benda budaya dari tujuh kelompok koleksi yang dinilai berpindah kepemilikan secara tidak sukarela selama masa kolonial.
Koleksi tersebut meliputi Berlian Banjarmasin, Pedang Sikin Panjang, panel makam Kesultanan Aceh, manuskrip Al-Qur’an milik Teuku Umar, empat manuskrip Kesultanan Aceh, enam gulungan Wayang Beber, serta enam nisan Batu Aceh.
Ketua Komite Koleksi Kolonial Belanda Lilian Gonçalves-Ho Kang You mengatakan keputusan pengembalian didasarkan pada penelitian asal-usul benda, bukti sejarah ketidakadilan kolonial, dan dialog antara kedua negara.
Menurut Menbud, setelah tiba di Indonesia, seluruh koleksi akan dikelola melalui perawatan dan konservasi, penelitian ilmiah bersama, serta perluasan akses publik untuk pendidikan, guna memperkuat pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya nasional.






















