Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merembet ke kawasan permukiman padat penduduk dan menghancurkan 305 rumah. Sedikitnya 1.800 orang terdampak, sementara sekitar 500 warga dievakuasi ke sekolah dan masjid terdekat, menurut badan penanggulangan bencana setempat pada Senin (12/10).
Api mulai berkobar pada Sabtu (10/10) sore di Desa Serdang, Kabupaten Bangka Selatan, dan terus menyala hingga Minggu (11/10) malam. Angin kencang memperluas kobaran ke permukiman, sementara kondisi lahan gambut, terbatasnya pasokan air, serta bangunan berbahan kayu menyulitkan pemadaman.
Kebakaran tersebut melalap lahan seluas 8,3 hektare. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Pemerintah daerah telah mendirikan tenda pengungsian dan dapur umum serta menyalurkan makanan, air, dan pakaian bagi warga terdampak.
Penanganan kebakaran
Di tengah kebakaran yang meluas, Indonesia mengerahkan 60.177 personel gabungan untuk menangani karhutla, terutama di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Presiden Prabowo Subianto menerima laporan penanganan kebakaran dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin malam.
Pemadaman masih berlangsung di area seluas 639 hektare yang tersebar di enam provinsi. Personel dari dinas pemadam kebakaran, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, instansi kehutanan daerah, dan relawan dikerahkan untuk operasi darat. Tim di lapangan rata-rata memadamkan lebih dari 80 persen area yang baru terbakar setiap hari.
Operasi udara juga dilakukan menggunakan helikopter dan pesawat untuk menjatuhkan air di titik kebakaran. Kondisi dilaporkan membaik di Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan. Pemerintah turut meningkatkan modifikasi cuaca untuk memanfaatkan awan hujan, menjelang meluasnya musim hujan pada pertengahan hingga akhir Oktober.
Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan terparah dalam 11 tahun terakhir, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Pada Januari–Juli 2026, sekitar 202.000 hektare lahan terbakar.
Organisasi nonpemerintah memperkirakan sedikitnya 600.000 hektare tambahan mungkin terbakar dalam bulan-bulan berikutnya. Kebakaran di Bangka Belitung menjadi kasus pertama tahun ini yang mengakibatkan kerusakan terhadap ratusan rumah.


























