Indonesia mendorong Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mereformasi mekanisme internalnya agar lebih efektif dalam menyelesaikan konflik di antara negara anggota dan memperkuat peran organisasi tersebut dalam menjaga perdamaian dunia Islam.
Wakil Menteri Luar Negeri RI Muhammad Anis Matta menyampaikan seruan itu dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri (KTM) OKI ke-52 di Baghdad, Irak, pada 17–18 Oktober 2026. Menurut dia, berbagai konflik yang masih berlangsung di dunia Islam harus menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas OKI dalam merespons perselisihan.
“OKI perlu memiliki mekanisme khusus untuk menyelesaikan sengketa di antara negara-negara anggotanya. Indonesia dapat menjadi oasis perdamaian bagi negara-negara anggota OKI,” kata Anis pada 17 Oktober.
Ia menekankan bahwa reformasi OKI perlu didukung visi bersama yang mengintegrasikan potensi politik, sosial, budaya, dan ekonomi negara-negara anggota, disertai peta jalan pembangunan serta mekanisme penyelesaian perbedaan secara damai.

Isu Palestina dan pertemuan dengan mitra
Anis juga menegaskan bahwa Palestina harus tetap menjadi prioritas utama organisasi tersebut. Indonesia mendorong negara-negara anggota menerjemahkan dukungan politik menjadi langkah konkret melalui jalur diplomatik, hukum, dan kemanusiaan. Upaya itu mencakup peningkatan bantuan bagi rakyat Palestina, penghentian perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat, serta penolakan terhadap pemindahan kedutaan ke Al-Quds Al-Sharif.
Di sela-sela konferensi, Anis menggelar sejumlah pertemuan untuk memperkuat kerja sama Indonesia dengan negara anggota OKI dan mitra strategis.
Bersama Sekretaris Jenderal D-8 Sohail Mahmood, ia membahas prioritas kepemimpinan Indonesia pada 2026–2027 serta persiapan KTT D-8 di Indonesia pada 2027. Pertemuan dengan Menlu Gambia Sering Modou Njie berfokus pada penguatan hubungan bilateral dan kerja sama multilateral.
Anis juga bertukar pandangan dengan Abdulkarim Tan Misuari dari Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) mengenai proses perdamaian di Filipina Selatan, dengan menekankan pentingnya dialog dan implementasi komitmen perdamaian.
Pada 18 Oktober, ia bertemu Menlu Yaman Afrah Abdulaziz Al-Zouba untuk membahas situasi Yaman dan Timur Tengah, serta Wakil Menlu Irak Mohammed Hussein Bahr Al-Uloom dan Wakil Menteri Perminyakan Irak Ezzat Saber Ismail guna menjajaki penguatan hubungan bilateral, kerja sama di OKI, serta peluang di sektor energi dan investasi.























