Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound hingga 4 persen pada perdagangan Selasa (20/10), menghentikan aksi jual masif selama dua hari terakhir yang merontokkan kapitalisasi pasar hingga lebih dari Rp1.200 triliun ($82 miliar).
Pemulihan cepat ini terjadi setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat merilis langkah perbaikan transparansi pasar modal.
Pasar keuangan domestik sebelumnya terguncang hebat setelah lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengumumkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging markets menjadi standalone market. Peringatan keras ini memicu kekhawatiran pelepasan aset berskala besar oleh dana investasi global (passive funds).
MSCI menyoroti minimnya transparansi kepemilikan saham serta masih maraknya praktik perdagangan terkoordinasi (saham gorengan) di pasar modal Indonesia. Penurunan status ke standalone market dinilai berisiko mengisolasi pasar modal nasional dari arus modal asing di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal.

Langkah Darurat Otoritas Bursa
Menanggapi situasi tersebut, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan telah menggelar pertemuan daring dengan pihak MSCI pada Senin (19/10). BEI mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan sangat tinggi dari perhitungan IHSG.
"Kami melakukan yang terbaik untuk pasar kita. Langkah ini diambil agar pergerakan indeks mencerminkan kondisi riil pasar," ujar Jeffrey. Ia menambahkan, emiten yang terdampak kebijakan ini mencakup sekitar 18 persen dari total bobot IHSG.
Selain merombak konstituen indeks, BEI juga memperketat batas penurunan harga saham harian (auto rejection bawah/ARB) menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen guna menahan laju penurunan harga secara drastis.
Dari sisi regulasi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan komitmennya untuk memperkuat penegakan hukum terhadap pelanggaran di pasar modal, khususnya penindakan atas aksi manipulasi pasar.
"Pesan khusus yang sangat penting adalah bagaimana kita harus terus menindak tegas pihak-pihak yang melakukan pelanggaran terkait coordinated trading dan praktik sejenisnya," tegas Friderica usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan, dan Gubernur Bank Indonesia.
Rupiah dan Keputusan BI
Langkah intervensi otoritas berhasil menahan tekanan pada nilai tukar rupiah yang sempat bergerak mendekati level terendahnya. Pada Selasa (20/10) pagi, rupiah menguat tipis ke kisaran Rp18.000 per dolar AS.
Pasar kini mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/10). Sebagian besar ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan, meski opsi kenaikan suku bunga tetap terbuka guna menopang stabilitas nilai tukar dari tekanan eksternal.
Para pengamat menilai, penyesuaian regulasi yang dilakukan BEI dan OJK merupakan respons positif untuk membangun kembali kepercayaan investor. Namun, efektivitas penegakan hukum di lapangan akan menjadi kunci utama dalam menjaga daya tarik investasi portofolio di Indonesia ke depan.




















