Mekah semakin diramaikan oleh jemaah Indonesia seiring dimulainya kedatangan jemaah gelombang kedua pada hari ini 7 Mei 2026, Pelayanan dan perlindungan jemaah haji Indonesia semakin dimatangkan dan diperketat oleh Pemerintah Indonesia.
Berbeda dari fase sebelumnya yang melalui Madinah, seluruh jemaah pada gelombang ini akan terbang langsung ke Jeddah dan sudah mengenakan ihram sejak keberangkatan dari Tanah Air.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi, Ihsan Faisal, menyebut kloter pertama dari gelombang kedua dijadwalkan tiba pada pagi hari, disusul total 15 kelompok terbang pada hari pertama.
Ia menambahkan, pola kedatangan kini berubah menjadi lebih dinamis karena berlangsung sepanjang hari tanpa jadwal tetap. “Petugas akan full 24 jam menerima kedatangan para jemaah,” ujarnya.
Di tengah peningkatan arus jemaah, Mekah kini menampung lebih dari 42.000 jemaah dari 110 kloter gelombang pertama atau sekitar 45 persen dari total keseluruhan.
Untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas, ratusan petugas tambahan dari Madinah dan bandara mulai dipindahkan ke Mekah guna memperkuat layanan, terutama di titik-titik padat seperti Masjidil Haram.
Petugas siaga di titik-titik padat
Sejalan dengan itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiagakan personel perlindungan jemaah di sejumlah area rawan di kompleks Masjidil Haram. Langkah ini diambil untuk membantu jemaah—terutama lansia—yang kerap mengalami kebingungan arah atau terpisah dari rombongan.
Petugas Perlindungan Jemaah (Linjam), Deka Ulfa Wiwik Irjayanti, menjelaskan bahwa beberapa titik seperti jalur sekitar Terminal Syib Amir dan area toilet menjadi lokasi yang paling sering membingungkan.
Ia mencontohkan, banyak jemaah menjadikan WC 3 sebagai patokan keluar, padahal akses menuju Terminal Syib Amir justru mengarah ke WC 9.
“Di titik-titik tertentu yang membingungkan, saat ini sudah ada petugas kita yang bersiaga untuk mendampingi dan membantu,” kata Deka.
Selain memberikan panduan arah, petugas juga mengedukasi jemaah terkait perlindungan diri dari cuaca panas ekstrem. Jemaah diimbau membawa perlengkapan seperti payung, topi, masker, serta menjaga kelembapan tubuh selama beraktivitas di luar ruangan.
PPIH juga menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Jemaah diminta tidak memaksakan diri untuk selalu beribadah di Masjidil Haram jika kondisi tidak memungkinkan.
“Kalau cuaca terlalu panas, lebih baik shalat di masjid hotel. Kita harus menjaga kesehatan agar saat Armuzna tetap fit,” ujar Deka.
Dengan meningkatnya jumlah jemaah dari dua gelombang sekaligus, koordinasi layanan dan kehadiran petugas di lapangan menjadi kunci untuk memastikan kelancaran ibadah serta keselamatan jemaah Indonesia di Tanah Suci.






