Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat melanda kawasan hutan lindung Gunung Soputan di Sulawesi Utara. Kobaran api yang mulai terdeteksi sejak Minggu (2/8) diperkirakan telah membumihanguskan sedikitnya 300 hektare area hutan dan masih berpotensi meluas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Tenggara, Julex Wanga, menyatakan bahwa cuaca ekstrem dan tiupan angin kencang memicu kobaran api menjalar dengan sangat cepat ke berbagai titik.
"Sejak api pecah pada hari Minggu, kami memperkirakan luas area yang terbakar sudah mencapai 300 hektare atau bahkan lebih," kata Julex saat memberikan keterangan di Manado, Selasa (4/8).
Julex menggambarkan beratnya tantangan yang dihadapi petugas di lapangan akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Akses menuju titik api juga tergolong sulit ditempuh oleh tim pemadam.
"Angin berembus sangat kencang, sampai rasanya ingin roboh, dan area kebakaran menjadi makin sulit dijangkau," ungkapnya.
Kemunculan titik api (hotspot) di area hutan lindung tersebut terpantau tidak menentu. Di beberapa lokasi, api sempat meredup namun kembali menyala di titik yang berbeda. Pada Senin malam, petugas mencatat terdapat sekitar empat hingga lima titik api skala besar yang menyebar.
Guna menanggulangi kebakaran yang kian meluas, tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, pencinta alam, kelompok masyarakat, serta warga setempat terus berjibaku di lapangan. Pemadaman bahkan dilakukan hingga larut malam.
"Pada hari kedua kebakaran, kami terus mengupayakan pemadaman hingga tengah malam," tambah Julex.
Berdasarkan kronologi kejadian, laporan awal timbulnya titik api di kawasan hutan lindung Gunung Soputan masuk pada Minggu (2/8) sekitar pukul 09.45 WITA. Petugas BPBD Minahasa Tenggara bersama personel gabungan tiba di lokasi 15 menit kemudian untuk memulhai operasi pemadaman. Pada hari kedua penanganan, estimasi awal kerusakan hutan sempat tercatat antara 50 hingga 100 hektare sebelum akhirnya meluas signifikan akibat faktor angin.
Kebakaran hutan lindung di kawasan gunung berapi aktif seperti Gunung Soputan ini memicu kekhawatiran rusaknya ekosistem alami Sulawesi Utara serta ancaman gangguan asap bagi pemukiman warga di sekitar lereng gunung.























