BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Pemerintah Indonesia beralih ke minyak Afrika di tengah ketegangan Selat Hormuz
Pasokan minyak mentah dari sejumlah negara Afrika diperluas untuk mengantisipasi potensi gangguan energi akibat meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Pemerintah Indonesia beralih ke minyak Afrika di tengah ketegangan Selat Hormuz
Selat Hormuz. / AP

Upaya diversifikasi sumber energi terus dilakukan pemerintah guna mengurangi risiko gangguan pasokan minyak akibat memanasnya situasi di sekitar Selat Hormuz.

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengatakan pemerintah tengah mencari sumber minyak dari wilayah yang tidak bergantung pada jalur pelayaran melalui selat tersebut.

"Kerja sama kini banyak dilakukan dengan Aljazair, Nigeria, Angola, dan sejumlah negara Afrika lainnya," kata Havas usai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, Afrika menjadi alternatif yang tepat karena pengiriman minyak dari kawasan tersebut tidak melewati Selat Hormuz yang saat ini menghadapi ketidakpastian akibat konflik regional.

"Selama ini pasokan dari Afrika cukup banyak dan sejauh ini kondisinya aman," ujarnya.

Selain Afrika, pemerintah juga mulai menjajaki peluang impor minyak dari kawasan Amerika Latin yang memiliki cadangan minyak dan gas cukup besar.

"Kami melihat banyak negara di Amerika Latin yang memiliki potensi minyak dan gas. Hampir seluruh negara di kawasan itu memiliki potensi tersebut," kata Havas.

Sebelumnya, pada April lalu, PT Pertamina menyatakan Afrika telah menjadi salah satu sumber alternatif minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia untuk mengamankan pasokan minyak dari berbagai sumber selama situasi di Selat Hormuz masih terdampak konflik kawasan.

Pertamina juga memastikan ketersediaan bahan bakar minyak dan gas elpiji bagi kebutuhan rumah tangga maupun industri tetap terjaga.

Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat setelah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia, yang dilalui sebagian besar pengiriman minyak mentah dan gas alam cair global.

Pemerintah sebelumnya memperkirakan sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah nasional diangkut melalui jalur tersebut, sehingga potensi gangguan pelayaran dapat memengaruhi ketahanan energi dalam negeri.

Pencarian pasokan alternatif menjadi semakin mendesak setelah muncul laporan bahwa dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah RI kaji skema regulasi baru soal impor 150 juta barel minyak dari Rusia
SUMBER:TRT Indonesia