Indonesia dan Rusia menegaskan komitmen untuk kerja sama di sektor industri strategis dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di sela BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, China.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat jejaring kemitraan internasional guna mendukung transformasi industri nasional, sekaligus membuka peluang kolaborasi baru di bidang perdagangan, investasi, dan pengembangan teknologi industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan forum BRICS PartNIR memiliki arti penting bagi Indonesia, terutama setelah resmi bergabung sebagai anggota kelompok ekonomi tersebut.
“Forum BRICS tentang PartNIR sangat penting bagi kami. Kami sangat menghargai dukungan Pemerintah Rusia terhadap keanggotaan Indonesia di BRICS dan akan sangat tertarik untuk mendengar pandangan mengenai arah masa depan kerja sama industri dalam kerangka BRICS,” ujar Agus.
Ekspor dagang positif
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Indonesia diwakili Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy, didampingi Pelaksana Tugas Direktur Akses Industri Internasional Binoni A. Napitupulu. Sementara delegasi Rusia dipimpin Counsellor from the Russian Trade Mission in China, Andrei Gorobets.
Dari sisi ekonomi, hubungan dagang kedua negara menunjukkan perkembangan positif. Nilai perdagangan nonmigas Indonesia-Rusia pada triwulan pertama 2026 mencapai sekitar $1 miliar, meningkat 1,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia sepanjang 2024 tercatat sebesar $3,3 miliar atau naik 13,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah komoditas utama yang dikirim ke pasar Rusia meliputi produk karet, kopi, kakao dan teh, alas kaki, komponen elektronik, serta produk kimia.
Pemerintah Indonesia juga menyambut positif perkembangan Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditandatangani di St. Petersburg pada Desember 2025. Perjanjian tersebut diyakini akan memperluas akses pasar serta meningkatkan arus perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan negara-negara anggota Eurasian Economic Union, termasuk Rusia.













