Pemerintah Singapura meminta warganya untuk tetap tenang menyikapi langkah Indonesia yang memangkas pasokan ekspor gas alam melalui pipa menuju negara tetangga tersebut.
Menteri Tenaga Kerja sekaligus Menteri Penanggung Jawab Energi dan Sains & Teknologi Singapura, Tan See Leng, menegaskan bahwa pasokan gas di Singapura masih sangat memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan domestik.
"Saya mengimbau masyarakat Singapura untuk tetap tenang dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa," ujar Tan dalam pernyataan resmi yang dirilis di situs Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura, Minggu (25/10).
Langkah pengurangan ekspor gas ini sebelumnya diumumkan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, pada Sabtu (24/10). Keputusan tegas tersebut diambil guna mengalihkan pasokan gas untuk mengamankan sektor kelistrikan di dalam negeri.
"Demi menjaga keandalan pasokan gas domestik untuk pembangkit listrik, terhitung hari ini, pasokan gas yang sebelumnya ditujukan ke Singapura dialihkan untuk kebutuhan dalam negeri," kata Djoko.
Secara terperinci, Indonesia memotong aliran gas sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd)—terdiri atas 15 mmscfd dari Blok Natuna dan 16 mmscfd dari Sumatera. Pengalihan ini difokuskan untuk memperkuat pasokan listrik di kawasan Batam, Bintan, hingga daratan Sumatera. Wilayah Kepulauan Riau sendiri sempat mengalami pemadaman listrik secara massal hingga 16 jam pada awal bulan ini.
Indonesia pangkas ekspor gas pipa ke Singapura sekitar 9 persen
Pemangkasan pasokan sebesar 31 mmscfd ini setara dengan penurunan sekitar 9 persen dari total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura. Berdasarkan kalkulasi Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura, pengurangan tersebut setara dengan 17 billion British thermal units per day (BBTUD) selama periode 18 hari.
Kendati demikian, pihak EMA menyebut angka pemangkasan ini terbilang kecil, yakni kurang dari 2 persen dari total kebutuhan gas harian Singapura untuk pembangkit listrik yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD. Saat ini, Singapura mengandalkan gas alam untuk menghasilkan sekitar 95 persen dari total kebutuhan listrik nasionalnya.
Tan menjelaskan bahwa Singapura telah mengantisipasi dampak ini dengan mengamankan pasokan alternatif, termasuk impor gas alam cair (LNG). Pembeli gas negara, GasCo, juga dinyatakan siap mengimpor lebih banyak LNG kapan saja jika diperlukan.
Terkait dengan kontrak jangka panjang, Tan menegaskan bahwa pengiriman gas diatur melalui kesepakatan komersial antara pengimpor gas Singapura, Gas Supply Pte Ltd (GSPL), dan para pemasok asal Indonesia. Pihaknya berharap seluruh pihak dapat menghormati kewajiban kontrak tersebut.
"Jika ditemukan adanya pelanggaran kontrak, GSPL akan menempuh jalur hukum komersial sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam perjanjian," tutur Tan menambahkan.
Sebagai langkah jangka menengah, Singapura kini tengah membangun terminal LNG kedua serta terus melakukan diversifikasi bauran energi nasional demi menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Langkah penghentian sebagian ekspor ke luar negeri ini sejalan dengan komitmen Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Sebelumnya, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan memprioritaskan pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan dalam negeri dan mengevaluasi berbagai kontrak ekspor demi menjaga kedaulatan serta ketahanan energi nasional.






















